4 Tipikal Manusia Ala Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam

oleh | Shabieq El Himam
(Alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon. Saat ini sedang melanjutkan studi di Al-Azhar Mesir)

Jika dalam ilmu psikologi manusia bisa dikelompokkan kedalam empat ragam karakter, yakni sanguin, kolerik, melankolis, dan plegmatik, maka ternyata Rasululloh SAW pun juga pernah memaparkan empat ragam karakteristik manusia.

Kala itu beliau berujar, “Mau aku kasih tahu tipikal manusia terbaik dan terjelek?”. Namun semua yang hadir terdiam, tiada seorangpun yang berani merespon pertanyaan beliau. Hingga akhirnya sesosok pemuda menyeruak memberanikan diri menjawab, “Tentu mau ya Rasulalloh”, lantas akhirnya kanjeng Nabi pun memaparkan tipikal manusia yang dimaksud.

Ia shallallohu ‘alaihi wasallam berujar, memaparkan tipikal manusia pertama dengan sabdanya, “Man yurja khoiruhu wa yu’manu syarruhu”.

Yakni sesosok manusia yang bisa diharap membawa ekses positif dalam relasi sosial plus tidak lagi dikhawatirkan imkan melancarkan perilaku negatif, terlebih destruktif.

Ini, adalah tipe manusia ideal menurut Nabi. Dari sosoknya yang memancar hanyalah semburat cahaya, tiada kemunafikan dalam bersikap.

Kala disakiti, ia takkan membalas menyakiti, bahkan ia akan sangat gampang memaafkan segala kesalahan yang dilancarkan orang lain kepadanya. Kala ia dihina bukan balasan penghinaan yang ia cuatkan, melainkan cukup diam sebagai jawaban.

Orang tipe ini sangat hati-hati sekali dalam menjaga kredibilitas dimata orang lain. Ia akan berusaha tampil dengan performa optimal kala diserahi sebuah amanah. Meski amanah ini berupa hal yang terkesan remeh, ia akan tetap menjaganya semaksimal mungkin. Sebab ia sadar bahwa sikap amanah harus tetap dikedepankan untuk mengemban segala tugas.

“La imana liman la amanata lah”

Hidupnya didedikasikan untuk memberikan kebahagiaan sebanyak-banyaknya kepada semua orang, meski dengan itu ia harus rela kehilangan kebahagiaan pribadi.

Lalu beliau memaparkan tipikal manusia kedua dengan sabdanya, “Man la yurja khoiruhu, wala yu’manu syarruhu”

Yakni tipe manusia yang tiada bisa diharap membawa ekses positif dalam relasi sosial, juga sangat dikhawatirkan sekali pada suatu saat berani melancarkan sikap-sikap negatif ditengah kehidupan bermasyarakat.

Manusia jenis ini adalah manusia yang memiliki strata terendah dimata Rasululloh, ia seringkali menjadi biang dari segala permasalahan yang timbul dimasyarakat.

Ia tiada mampu untuk memberikan sinar-sinar positif dalam kehidupan, justru malah seringkali membikin onar dengan pihak lain. Sehingga ialah tipe manusia yang banyak memicu terjadinya disintegrasi dalam tatanan sosial kemasyarakatan.

Ialah sosok manusia yang hobi mengevaluasi kekurangan orang lain, tanpa mau kontemplasi diri, memuhasabahi diri pribadi. Sehingga seringkali ia merasa menjadi orang yang perfect tanpa sadar sama sekali bahwa nyatanya disudut hatinya telah terjangkit virus “rumongso’ yang demikian berbahaya.

Tipikal manusia selanjutnya adalah, “Man yurja khoiruhu, wala yu’manu syarruhu”. Namun tipe berikut tidak disebut secara redaksional oleh beliau Nabi, melainkan hanya secara implisit melalui interpretasi mafhum hadits.

Bahwa ia adalah tipe manusia yang masih bisa diharap membawa ekses positif, namun dilain pihak, ia masih seringkali menjadi pemicu terjadinya tindakan-tindakan negatif.

Manusia jenis ini adalah manusia yang terkesan plin-plan (inkonsisten), belum bisa all out dalam memberikan reaksi positif kepada lingkungannya.

Tindakannya juga masih sangat imkan sekali memuat motif-motif terselubung, mengandung sejenis kemunafikan, atau dengan kata lain masih ada udang di batu.

Manusia yang terakhir ialah manusia yang super pasif, yakni “Man la yurja khoiruhu, wayu’manu syarruhu”.

Tipe manusia yang tiada bisa diharap memberi sumbangsih kepositifan terhadap pihak lain, namun disisi lain, ia pun tidak juga menjadi ‘biang’ permasalahan ditengah realitas masyarakat.

ia terkesan cuek dan apatis terhadap lingkungan sekitar. Tidak merasa tergugah untuk memberikan sedikit saja kemanfaatan teruntuk orang lain.

Hidupnya didedikasikan hanya untuk membahagiakan diri sendiri, padahal realitas menyatakan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu butuh untuk bersosialisasi dan berikhtiar menjadi pribadi yang anfa’ bagi masyarakat.

Akhir coretan, kiranya bukan perkara sederhana untuk melejitkan strata diri menuju insan terbaik menurut Rasululloh, sesosok insan yang sangat respect dengan lingkungan, hidup sebagai insan sosial yang memberi kebaikan seindah-indahnya, dan sebanyak-banyaknya kepada semua orang.

Perlu usaha yang terus menerus dan berkelanjutan untuk mengejawantahkan itu semua. Siapapun kita, yang jelas kita ingin memproses diri menuju insan yang baik, insan yang membaik, dari waktu ke waktu, semoga.[]