Mulutmu Harimaumu

CAHAYA FAJAR | MULUT-MU HARIMAU-MU
oleh | AMS

Menilai suatu agama ataupun ideologi haruslah dilihat dari konsep yang dibangun dan dipercaya sebagai panduan pikir dan gerak para penganutnya. Menilai islam, juga demikian. Lihatlah dari sumber panduan utamanya yang menjadi landasan pikir dan sikap ummatnya. Jangan hanya semata dari perilaku ummat secara sepotong terlebih dari oknum sebagian kecilnya.

Islam adalah agama penuh kelembutan dan jauh dari kekasaran, baik dalam kata maupun tindakan. Hal ini tampak banyak termaktub dalam sumber panduan utama agama ini, yaitu alquran dan hadist nabi (perkataan, perbuatan dan diamnya nabi sebagai tanda persetujuannya). Sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt dalam alquran bahwa manusia (melalui Nabi Muhammad) diperintahkan untuk berlaku lemah lembut dalam berkata dan bersikap. Karena dalam kelembutan akan mampu menembus hati yang keras sekalipun. Serta melarang bersikap keras dan kasar. Karena dalam kekasaran akan menjauhkan orang dari jalan petunjuk. Allah swt berfirman :

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS. Ali ‘Imran : 159)

Baca Juga: Kenikmatan Di Balik Rintihan

Kelemahlembutan perkataan dan sikap adalah bukti rahmad, anugerah kasih sayang Allah swt terhadap Nabi Muhammad sebagai mahkluk terbaik sejagat dan seluruh semesta yang tidak ada cela sedikitpun atas perangai Rasulullah swt. Berahklaq dengan akhlaq alquran secara sempurna, teladan kebaikan dan sosok yang amat pantas dijadikan figur idola semua kalangan. Perintah berlemah lembut pada nabi menjadi perintah pula bagi ummatnya untuk berusaha meniru kebaikan sikap teladannya.

Perhatikan, pada suatu ketika, disaat Nabi sedang bersama para sahabatnya dalam sebuah masjid, datanglah seorang Arab Badui seraya berdoa agar Allah mengampuni dirinya dan Nabi Muhammad saja. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata; “Seorang arab badui masuk ke dalam masjid ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk, lalu ia berkata; “Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau ampuni seorang pun bersama kami berdua, ” maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa seraya bersabda: “Engkau telah sempitkan sesuatu yang lapang.” Arab badui tersebut kemudian berlalu, maka ketika sampai di ujung masjid tiba-tiba saja ia kencing, maka berdirilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke arahnya dan bersabda: “Hanyasanya rumah ini dibangun untuk shalat dan berdzikir kepada Allah, sehingga tidak boleh untuk dikencingi.” Lalu beliau meminta untuk diambilkan satu ember air, dan beliau kemudian menuangkan pada bekas kencingnya.” Abu Hurairah berkata; “Arab badui itu lalu berkata sesuatu setelah paham sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan ke arahku, demi bapak dan ibuku, beliau tidak mencela, tidak marah dan tidak memukul.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa beeerapa orang sahabat berdiri dan marah dengan mengucapkan kata-kata kasar nan buruk pada badui tersebut. Namun Rasulullah melerainya dan dengan ucapan penuh kelembutan tanpa kalimat cacian yang kasar, Rasulullah menyuruh para sahabat untuk cukup membersihkannya. karena cacian dan kekasaran ucapan tentu tidak akan membuat tempat yang telah najis (sebab dikencingi tersebut) akan berubah menjadi suci serta tidak akan pula dengan dimarahi menjadikan arab badui itu seketika menjadi sadar, atau bahkan mungkin akan menjadi sebaliknya. Sehingga Rasulullah dengan kelembutan langsung berfokus pada solusi. Sebagaimana dalam riwayat Bukhari dan muslim juga dikatakan :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“bahwa Abu Hurairah berkata, “Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula, suatu ketika disaat nabi sedang duduk berkumpul bersama para sahabatnya di suatu majelis. Datang saat itu seorang pendeta Yahudi Zaid bin Sa’nah seketika masuk melintasi shaf, lalu menarik kerah baju Nabi dengan keras seraya berkata dengan kasar kepadanya, “Bayar utangmu, hei Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang!”. Peristiwa demikian sontak membuat para sahabat marah dan berdiri. Tampaklah Umar bin Khattab RA langsung berdiri seraya menghunus pedangnya. Dengan geram Umar berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya”. Namun Nabi Muhammad sebagai Rasul Mulia, dengan penuh kelembutan berkata, “Tidak, bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik.”

Demikian respon nabi terhadap Umar dihadapan si pendeta yang berlaku kasar tersebut. Namun tanpa disangka, si pendeta Yahudi berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu.
Aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin.” Demikianlah kelembutan nabi, sekiranya nabi membalas dengan berkata dan bersikap kasar terhadap pendeta Yahudi tersebut, maka tentu hidayah akan semakin jauh darinya.

Cacian dan perkataan yang kasar tidaklah akan merubah keadaan bahkan mungkin akan menjadi sebaliknya, yaitu seseorang akan semakin menjauh dari ajakan kebenaran. Bahkan bisa jadi yang pada awalnya seseorang bersimpati akan menjadi membenci. Suatu masalah yang awalnya sepele dan sederhana, namun karena ada respon perkataan yang kasar maka masalah menjadi melebar dan membesar sehingga membakar semuanya. Ibarat sebuah percikan api yang membakar rerumputan hingga akhirnya melahap habis suatu areal hutan. Ucapan kasar tidaklah menyelesaikan, melainkan menambah kerumitan persoalan. Sehingga kenapa nabi segera berfokus pada solusi dari pada menambah masalah disaat ada seorang badui yang kencing di pojok masjid.

Ucapan sejatinya adalah refleksi dari apa yang ada dalam dirinya, yaitu perasaan dan pikirannya. Sebagaimana pula tindakan, maka ucapan atau perkataan sesungguhnya adalah tumpahan dari apa yang ada serta memenuhi dalam diri seseorang. Jika yang memenuhi pikiran dan perasaannya adalah pengalaman negatif maka akan terungkap pula kata-kata negatif, kasar, cacian, hujatan dan sebagainya yang keluar dari lisannya. Karena lisan adalah jendela pikiran. Jika terbuka jendelanya maka akan tampaklah apa yang ada dalam seisi rumahnya. Maka terbukalah apa yang ada dalam pikirannya dan itulah nilai kualitas diri seseorang.

Inilah perintah kebaikan dari Tuhan semesta alam, Jaga lisanmu, jangan berkata kasar, karena hal itu menjauhkan manusia dari jalan kebaikan. Berlemah lembutlah dan bersabarlah. Disinilah kita perlu berlatih dengan penuh kesabaran agar sebelum berucap selayaknya dipikirkan terlebih dahulu, kira-kira apa dampak dari produksi ucapan lisan kita. Diamlah sejenak sebelum berucap.

Semoga Allah swt selalu membimbing kita untuk terus dapat melalui jalan kebaikannya dan dengan bimbinganNya semoga kita mendapat ridhoNya. Aamiinn…

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 3.11.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN