Cahaya Fajar | Rahmat Semesta Tak Harus Permisif

CAHAYA FAJAR | RAHMAT SEMESTA TAK HARUS PERMISIF
oleh | AMS

Karena memang sejatinya kehadiran Rasulullah saw yang bertugas membawa risalah sekaligus penyempurna risalah adalah untuk menjadi rahmad bagi sekalian alam.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Hanya Rasulullah-lah sebagai rahmat alam semesta ini artinya sejatinya Rasulullah saw adalah rahmad terbesar bagi alam semesta ini. Karena sebab nabi muhammad saw maka semesta ini tercipta. Karena keberadaan Nabi Muhammad saw maka apapun dan siapapun yang dibawanya dan membersamainya akan menjadi jalan rahmad pula. Sehingga islam menjadi jalan rahmad, dan para penyeru agama islam yang membersamai Rasulullah saw dalam setiap langkahnya maka juga menjadi jalan rahmad bagi manusia. Allah swt mengutus Rasulullah saw hanya sebagai belas kasihan (Rahmat) yang dihadiahkan untuk alam semesta. Sebagaimana sabdanya :

إنما انا رحمة مهداة

Aku adalah rahmad yang di hadiahkan

Pengertian rahmat menurut bahasa adalah الرقة والتعطف ( kelembutan yang berpadu dengan rasa iba atau kasih sayang) (Lisaanul ‘arab, ibnu Mundzir). Sementara menurut para ahli tafsir, Ibnu Qoyyim al Jauziyah bahwa alam semesta mendapatkan manfaat dari diutusnya nabi saw baik bagi kaum muslimin dengan syafaat maupun terhadap orang kafir (harbi) sekalipun melalui disegeraka kematian bagi mereka (dibunuh/perang). Karena hidup bagi mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat sehingga dengan dipercepatnya ajal tentu hal demikian lebih baik. Rasulullah saw sebagai rahmat bagi ummatnya karena menjadi ummat terbaik dan ummat yang terjaga dari musibah besar sebagaimana yang dialami oleh ummat ummat terdahulu, seperti dibenamkan ke bumi atau ditenggelamkan ke dalam air atau disegerakan adzab berubah menjadi binatang dan sebagainya.

Baca juga: Antara Rasio dan Rasa

Namun pada sebagian ummat menjadikan konsep rahmatan lil ‘aalamiin sebagai isu yang sensual dengan memahaminya secara salah kaprah. Yaitu konsep ini seakan menjadi justifikasi untuk berkasih sayang dengan ummat diluar islam yang bertentangan secara keyakinan atau aqidah dengan mencoba membangun sikap kesepemahaman keyakinan, sementara terhadap sesama muslim yang seiman namun berbeda sudut pandang, mereka saling membenci dan bermusuhan, hingga saling mengolok-olok diantara mereka, yang harusnya diantara mereka saling menebar kasih sayang dan saling bertoleransi. Hal demikian sangat dibenci oleh Allah sebagaimana FirmanNya :

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. (QS. Al-Mujadilah : 22)

Sikap toleransi dalam tindakan dan berkolaborasi secara konsep dan pandangan keyakinan (aqidah) dengan pemikiran yang tidak bersumber dari islam inilah yang akhirnya lahir banyak “huru-hara” pemikiran di tengah-tengah ummat islam, yang kemudian menjadikan kaum muslimin saling tuduh dan melemahkan kekuatan ukhuwah ummat hingga mengganggu dan merusak pola hubungan dalam internal ummat islam, karena ada sebagian kaum muslimin yang bersikap kooperatif adaptif dengan ide-ide dan konsep diluar islam hingga mencampuradukkan nilai-nilai dasar keyakinan. Muncullah beragam hiruk pikuk di tengah ummat dengan istilah liberalisme pemikiran islam, radikalisme, fundamentalisme, ekstrimisme, feminisme dan sebagainya. Hingga ummat terbelah dalam beragam kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Demikian pula konsep rahmatan lil aalamiin bukanlah berarti kaum muslimin boleh berkasih sayang dan bertoleransi dengan kemungkaran dengan alasan untuk bahwa islam adalah agama rahmat bagi siapapun sehingga memperbolehkan permisif atas kemungkaran yang ada. Tentu cara berpikir demikian tidaklah tepat, namun hal itu nyata ada dalam realitas bermasyarakat berbangsa akhir-akhir ini. Allah telah mencela mereka (ahlu kitab) sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat.” (QS. Al Ma’idah : 79).”

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melindungi diri kita dari pemahaman-pemahaman distortif yang menjauhkan diri dari pemahaman Islam yang lurus semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosa kita dan semoga Allah meridhoi kita . Aamin

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 25.10.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com