Cahaya Fajar | Untuk Apa Engkau Belajar?

CAHAYA FAJAR | UNTUK APA ENGKAU BELAJAR ?
oleh | AMS

Setiap kali saya tanyakan kepada para mahasiswa tentang apa tujuan mereka belajar dan menuntut ilmu? Sebagian besar mereka (untuk tidak mengatakan keseluruhan) menjawab untuk bekerja. Suatu jawaban yang mengagetkan saya karena hal ini seakan telah menjadi keumuman masyarakat akhir zaman. Hal ini tentu sangat berbeda dengan niat motivasi para pendahulu Islam yang menjadikan niat utama mencari ilmu adalah untuk semakin menjadikan dirinya mengenali Tuhannya dan syariat agamanya. Perbedaan tujuan dalam menuntut ilmu pastilah akan mempengaruhi tentang bagaimana mensikapi ilmu dan cara langkah untuk memperolehnya.

Pada masa-masa awal islam, ilmu dipelajari untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dan lebih memahami atas ajaran agama ini sehingga melahirkan kesungguhan dalam mencarinya. Tercatatlah nama An-Nu`man bin Sabit bin Zuta At-Taymiy dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah (80 H/699 M). Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris Al Asbahi yang lebih dikenal dengan nama Imam Malik (tahun 93H/713M). Muhammad bin Idris bin Al-`Abbas bin `Usman bin Syafi` bin As-Sa’ib atau yang dikenal dengan nama Imam Syafi’i (150 H/767 M). Abu `Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin `Abdillah bin Hayyan bin `Abdi llah bin Anas bin `Awf yang lebih dikenal dengan nama Imam Ahmad (164 /780 M). Semua mereka telah menjadikan ilmu sebagai jalan hidup sehingga menjadi peletak dasar madzhab atau cara pandang dalam memahami islam pada zaman awal islam dan kemudian membekasi jejak bermadzhab hingga hari ini.

Selain para ulama tersebut di atas, tercatat pula nama-nama yang mendalami ilmu dibidang hadist sehingga menjadi peletak dasar dalam pencatatan hadist nabi. Tercatatlah nama-nama sebagaimana berikut , yaitu: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al Bukhari bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah yang lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (194-256 H/ 773-835 M), Abu Abdillah bin Muhammad bin Hanbal Al Marwazy atau dikenal dengan nama Imam Ahmad (164-241 H/ 780-855 M). Abul Husain Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairy yang lebih dikenal dengan nama Imam Muslim (204-261 H/ 783-840 M). Abu Dawud Sulaiman bin Al Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Amran Al Azdi As Sijistani atau dikenal dengan nama Abu Dawud (202-275 H/ 817-889 M). Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at Tirmidzi bin Musa bin Dahhak As Sulami Al Buqi, atau imam at Tirmidzi (209-279 H/ 824-892 M). Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i bin Ali bin Bahr bin Sinan kenal pula dengan nama Imam an nasa’i (215-303 H/ 830-915 M). Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qadziani Ar Raba’i Al Qazwani atau imam Ibnu Majah (209-273 H/ 824-887 M).

Pada generasi selanjutnya para ulama kaum muslimin telah menjadikan ilmu sebagai sarana untuk menemukan kebesaran-kebesaran Allah sehingga lahirlah para peletak dasar ilmu pengetahuan. Tercatatlah nama-nama bersejarah yang telah mewarnai perkembangan awal ilmu pengetahuan antara lain ada nama: Jabir bin Hayyan Al-Azdi Ak-Kufi (101 – 197H/719-812M) yang di Barat disebut Geber, adalah Penemu Ilmu Kimia. Nama lainnya, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (164 – 232 H/780-804M) yang di Barat disebut Guaresmo, adalah Penemu Matematika, Peletak Aljabar, Perintis Aritmatika, dan Penemu angka NOL. Tercatat pula nama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi (240 – 311 H/854-923M) yang di Barat disebut Rhazes, adalah Bapak Kimia Klinik Kedokteran. Nama lain yang juga sangat terkenal di barat adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi (188 – 260 H/804-873M) yang di Barat disebut Al-Kindus, adalah Penemu Ilmu Fisika. Sementara Abu Ali Al-Hasan bin Al-Haitsam  Al-Bashri (354 – 430 H/965-1038M) yang di Barat disebut Avenetan, adalah Peletak Dasar Ilmu Fisika Optik dan Penemu Kamera. Demikian pula nama Abul Qosim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi (325 – 404 H/937-1013M) adalah Perintis Ilmu Bedah Kedokteran. Selanjutnya pula nama Abul Wafa Muhammad bin Muhammad Al-Buzjani (328 – 375 H/939-985M) adalah Perintis Geometri dan Perumus Kalkulus. Dan nama Abul Hasan bin Tsabit bin Quroh (221 – 284 H/836-897M).

Selanjutnya Ibnu Sina atau Aviecena (980-1037M), yang terkenal sebagai bapak ilmu kedokteran juga adalah ahli filsafat. Bahkan ia juga mendalami psikologi dan musik. Di bidang Tashawwuf terdapat nama Al-Ghazali (450H/1058M-505H/1111M) yang dikenal sebagai peletak dasar kajian-kajian tashawwuf, namun beliau juga menguasai banyak membahas masalah-masalah fiqih (hukum), ilmu kalam (teologi), dan tasawuf, dan juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi, dan pemerintahan. Bahkan di bidang ilmu sosial terdapat nama Ibnu Khaldun (1332-1404M) dikenal sebagai sosiologi dalam Islam. Selain banyak membahas masalah sejarah, juga banyak menyinggung masalah-masalah sosiologi, antropologi, budaya, psikologi, ekonomi, geografi, pemerintahan, pembangunan, peradaban, filsafat, epistemologi, dan juga futurologi. Semua mereka adalah Peletak Ilmu Fisika Matahari dan Penemu Segi Empat Magic. Serta masih banyak nama lainnya dari para pemikir islam yang membuahkan hasil berupa temuan-temuan perdana disaat barat dan agama lain masih dalam kegelapan.

Namun sejalan perkembangan jaman, ilmu tidak lagi dipahami sebagai upaya untuk mendekatkan diri dan menemukan kebesaran ilahi serta mendapatkan ridho Allah swt melainkan ilmu dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu yang sangat pragmatis semisal untuk mendapatkan sejumlah materi tertentu. Maka hal demikianlah yang menjadikan ilmu kehilangan maksud dasarnya. Berkenan dengan maksud yang demikian dalam mencari ilmu, maka Rasulullah saw memberikan ancaman yang keras. Sebagaimana dalam sabdanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan menuntut ilmu jika dimaksudkan untuk memperoleh popularitas dan bangga diri atau gelar maka hal demikian adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam agama.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kalian menuntut ilmu demi berbangga diri (sombong)  dihadapan ulama atau  untuk membantah  orang-orang bodoh atau  untuk memilih-milih majlis terbaik,  maka barang siapa melakukan semua itu  maka nerakalah baginya.”(HR Ibnu Majah: 254)

Demikian pula berkata Ibnu Rajab al-Hanbali :

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِثَلَاثٍ: لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِتُجَادِلُوا بِهِ الْفُقَهَاءَ، أَوْ لِتَصْرِفُوا بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ، وَابْتَغُوا بِقَوْلِكُمْ وَفِعْلِكُمْ مَا عِنْدَ اللَّهِ، فَإِنَّهُ يَبْقَى وَيَذْهَبُ مَا سِوَاهُ

“Ibnu Mas’ud berkata,’Janganlah belajar ilmu karena tiga tujuan, yaitu untuk mendebat orang-orang bodoh (mempengaruhi) atau untuk membantah para fuqoha’ (Ulama’) atau untuk menarik perhatian orang banyak. Carilah apa yang di sisi Allah dengan ucapan dan perbuatan kalian, karena dia akan kekal sedangkan yang lain hilang (hancur).”

Penetapan tujuan dalam menuntut ilmu amatlah penting karena hal itu sangat mempengaruhi pada sikap seseorang dalam menjalaninya serta hasil yang akan diperolehnya. Untuk itu para guru, murid, dosen, mahasiswa serta seluruh pihak yang terkait dalam proses dunia pendidikan termasuk para pengelola dunia pendidikan untuk menata niat dalam mengelola proses pendidikan yang sedang berlangsungkan berada dalam satu tujuan yang benar yaitu semata untuk membesarkan Allah dan mendapatkan ridhoNya.

Semoga Allah swt selalu membimbing kita di jalanNya dan mendapatkan ridhoNya. Aamiiin..

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 24.10.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN