Jujur, Ikhlas, Semangat!

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS.al-Anfal 60). Katakanlah, “tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. al-Isro’ 84). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Manusia layaknya seratus rombongan onta, hampir tidak ditemukan padanya onta rahilah/tunggangan. Dan dikatakan, Ketika banyak bersentuhan maka akan sedikit yang dirasakan.

Tiga prinsip beramal:

1. Seorang da’i ilallah semestinya semangat dalam beramal tiada lain hanya karena Allah ta’ala, dan merenungi apa yang terkandung dalam surat al
Insyirah sebagai berikut:

# ﺍﻟﻢ ﻧﺸﺮﺡ ﻟﻚ ﺻﺪﺭﻙ
Lapang dada dikala menghadapi bermacam tantangan

ﻭﻭﺿﻌﻨﺎ ﻟﻚ ﺫﻛﺮﻙ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﻧﻘﺾ ﻇﻬﺮﻙ
Tidak merasa berat dengan beban dan tanggung jawab

ﻭﺭﻓﻌﻨﺎ ﻟﻚ ﺫﻛﺮﻙ
Tidak merasa rendah diri, seperti yang dikatakan oleh sayyidina Ali radliyallahu anhu, “Harga seseorang adalah apa yang ia bisa”

ﻓﺎﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﺴﺮ ﻳﺴﺮﺍ ﺍﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﺴﺮ ﻳﺴﺮﺍ
Merasa tidak ada kesulitan dalam berdakwah sebab dibelakang semua itu ada kemudahan yang dijanjikan

ﻓﺎﺫﺍ ﻓﺮﻏﺖ ﻓﺎﻧﺼﺐ
Manajemen amal yang standar dan berproses untuk menyiapkan dakwah dengan media dan sebab-sebabnya sehingga tidak terlahir sehari dan terkonsep satu jam secara spontan.

ﻭﺍﻟﻰ ﺭﺑﻚ ﻓﺎﺭﻏﺐ
Mencintai lillah mencintai fillah bukan mencintai ma’allah.

2. Amal yang ia lakukan ikhlas karena Allah semata

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Ikhlaskan agamamu, amal sedikit akan mencukupimu” (HR. Ibnu Abiddunya dan Hakim)

“Ikhlaslah kalian semua dalam amal kalian karena Allah ta’ala, sebab sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali apa yang murni karena-Nya” (HR. ad Daruquthni)

Dan telah dikatakan, “Barang siapa ikhlas karena Allah, akan terlihat bekas keberkahannya”

3. Jujur dalam beramal karena Allah ta’ala dengan menjauhi sesuatu yang dibuat-buat, sebab kejujuran adalah dasar kemenangan, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “Ia menang jika ia jujur”(HR. Bukhari Muslim).

Baca Juga: Sesaat Untuk Tuhanmu Sesaat Lain Untuk Dirimu

Ketiga prinsip ini yakni kesemangatan, keikhlasan dan kejujuran adalah poros diterimanya amal seseorang. Dengan tiga hal itu, sesuatu yang kecil akan bernilai besar, yang sedikit akan menjadi banyak, yang terlambat akan mengejar. Allah ta’ala telah berfirman: ” Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui” (QS. An Nisa’70)

Itulah pondasi yang semestinya ditempuh para dai yakni amal yang ikhlas yang jujur dan serius, manajemen dan aturan dengan memperhatikan kehati-hatian, mengumpulkan kekuatan dan potensi hidup, memperhatikan apa yang dibutuhkan sesuai situasi dan kondisi agar himmah terkumpul dan tekad menguat tanpa merosot dan kendor.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan agar amal bersama pada daurah ini mendapat kesuksesan:

– Patuh terhadap pemimpin yang mengatur segala kegiatan dan amal dengan dibantu ahlu syuro, karena urusan bersama dibangun berdasarkan
musyawarah kecuali dalam kondisi darurat atau satu kondisi yang ia lebih tahu dengan hal apa yang bisa menarik kebaikan dan mencegah bahaya
menurut ijtihadnya.

-Menghormati pertemanan dan mendahulukannya diatas kepentingan pribadi, dikatakan: “Syarat berteman adalah kesamaan langkah”

-Memelihara apa yang diatasnya ada arah ke obyek dakwah dengan cara mudarah yakni menyamakan diri dengan orang lain dengan meninggalkan kedudukan pribadi dan hak yang terkait harta dan kehormatan lantas ia diam karena mencegah kejelekan dan terjadinya bahaya, bukan mudahanah, yakni melihat
kemungkaran dan kuasa untuk menolaknya tapi tidak menolaknya karena menjaga sisi siapa orang yang melakukan atau sisi lain seperti takut, serakah, sungkan, atau sedikitnya kepedulian dengan agama Dikatakan, ” Adaptasilah dengan mereka selama kamu masih di negri mereka dan senangkanlah mereka selama kamu masih di bumi mereka”

– Menggunakan metode pendekatan supaya mereka ramah dan simpati dengan ucapan yang baik, sebab firman Allah ta’ala: “Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaha 44) “serta ucapkanlah kata-kata yang baik pada manusia” (QS. Al Baqarah 83)

– Lembut dalam beramal karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Duhai Aisyah, berlaku lembutlah kamu, karena kelembutan tidak
terdapat dalam sesuatu pun kecuali menghiasinya dan tidak tercerabut dari sesuatu pun kecuali mengaibinya”. (HR. Abu Daud)

– Menampakkan suluk dai lebih banyak daripada ilmunya karena hal itulah yang akan membekas di hati
– Tidak menganggap remeh suatu hal baik sekecil apapun, karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:” Jangan menganggap remeh sesuatu
kebaikan pun kendatipun itu kamu menemui saudaramu dengan wajah berseri”. (HR. Muslim)

sumber: Tawjih waTazwid Abi Ihya’