Sesaat Untuk Tuhanmu Sesaat Lain Untuk Dirimu

Handlolah Al Usaidy, seorang sahabat yang termasuk tim penulis wahyu. Suatu hari ia berjalan bertemu Sayyidina Abu Bakar, ia tiba-tiba menangis. Lantas berkata:

“Hadlolah munafik, Abu Bakar!, dikala aku sedang bersama Rasulillah lalu beliau menuturkan terkait neraka dan surga seolah aku benar-benar melihatnya di depan mata. Namun dikala sudah balik ke rumah, aku sibuk mengurusi istri dan pekerjaan. Maka aku menjadi banyak lalai.”

“Jika semacam itu, demi Allah aku juga sama. Ayolah kita berangkat saja menemui Rasulillah.” sergah Abu Bakar.

Maka keduanya akhirnya berangkat menemui Rasulillah. Tatkala Rasulillah melihatnya. Beliau bertanya:

“Kau kenapa Handlolah?”

“Hadlolah munafik, Rasulillah! Dikala aku sedang bersama engkau lalu engkau menuturkan terkait neraka dan surga seolah aku benar-benar melihatnya di depan mata. Namun dikala sudah balik ke rumah, aku sibuk mengurusi istri dan pekerjaan. Maka aku menjadi banyak lalai.”

Rasulullah akhirnya menjawab, “Kalau saja kau terus-terusan dalam kondisi dikala kau sedang bersama denganku maka Malaikat akan menjabat tanganmu, di majlis-majlis dan jalan-jalan, juga di atas tempat tidurmu. Akan tetapi Handlolah, sesaat dan sesaat.”

Baca juga: Ngewongno Wong, Nyenengno Wong, Ojo Nggelakno

Seseorang sebagai seorang manusia memang memiliki kebutuhan-kebutuhan (hajah udlwiyyah) yang semestinya di tunaikan. Tak seperti Malaikat yang tak memilikinya. Maka tak heran jika Malaikat hanya melakukan sebuah tugas yang diperintahkan oleh Allah. Ada yang hanya sujud saja, ada yang cuma rukuk saja, dsb.

Namun manusia tak mungkin semacam itu. Tak mungkin seseorang terus-terusan ingat sama Allah. Sehingga disamping berusaha terus terhubung kepada Allah, maka ada saat bagi kita untuk memenuhi kebutuhan layaknya manusia sebagaimana mestinya. Saa’atan Robbak Saa’atan nafsak. Sesaat untuk Tuhanmu sesaat untuk dirimu. Ada saat kita fokus dalam menghadirkan diri kepada Allah (saa’atul hudluur), ada saat pula seseorang perlu mencukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya (saa’atul futuur)

Kita mengenal Abuya al Maliki betapa beliau sosok yang Allamah, akan tetapi beliau adalah figur Ulama yang tidak mempermasalahkan jika seorang Kyai suatu saat memasuki Mall atau pasar. Sebab ia sendiri yang lebih mengerti tentang apa yang menjadi kebutuhannya. Tak perlu kemudian sesumbar: “Tidak pantas Kyai ke Mall!”. Sebab Abuya saja dikala berkunjung ke Singapura beliau juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Mall membawa serta murid-muridnya.

Seseorang juga kadang memerlukan rekreasi. Bahwa Rasulillah saja terkadang juga mengajak para sahabat untuk rekreasi. Memberi tawaran tugas pada mereka. Ada yang memilih untuk menyembelih kambing, ada yang menguliti, ada yang memotong dagingnya, ada juga yang membakarnya, maka Rasulullah memilih untuk mencarikan kayu bakarnya.

Hadits ini mengesankan bahwa Islam itu indah dan mudah. Memang kita mengerti dalam bersikap seseorang memiliki pilihan untuk menerapkan ibadah dalam level hal (biasa) atau level maqam (istimewa). Ada seseorang bersedekah dikala banyak uang maka ia memilih level hal, ada juga yang tetap bersedekah meski sedang tidak punya uang, maka ia dalam posisi maqam. Ada yang mewajibkan qurban di tiap tahun, ada juga yang qurban sekali untuk seumur hidup. Bahkan ada yang menghukumi sunnah muakkad. Yang penting tidak sok dalam amal yang ia lakukan. Merasa diri telah melakukan amal yang luar biasa dan memandang orang lain dengan pandangan merendahkan.

Terkait dengan hal ini, maka memahami hikmatuttasyri’ merupakan sebuah hal yang amat penting dipahami oleh calon Kyai. Tidak gampang melarang sebuah hal. Sedikit-sedikit haram. Tidak memahami orang yang tertimpa permasalahan. Seseorang butuh solusi dalam memecahkan problem kehidupan, bukan malah menambah beban yang ia rasakan. Ingat-ingat lagi cerita tentang penjahat yang membunuh puluhan orang yang pada akhirnya divonis masuk surga. Sebab fatwa solutif yang disarankan seorang Kyai yang ia temui. Saat itu ia bertanya apakah Allah berkenan menerima taubatnya jika ia bertaubat?. Maka Sang Kyai menjawab dengan mantap, InsyaAllah, Allah akan menerima taubatmu.

Wallahu ta’ala a’lam

Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain saat ini meneruskan studi di Al Azhar Mesir.