Jiwa Sehat. Tubuh Kuat

CAHAYA FAJAR | JIWA SEHAT, TUBUH KUAT
oleh | AMS

Seringkali kita mendengar ada sebuah ungkapan bahasa Latin yang berbunyi “mens sana in corpore sano”, Di dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat. Ungkapan ini sebenarnya adalah merupakan karya sastra seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, pada karya bertajuk Satire X, sekitar abad kedua Masehi.

Saya mencoba untuk merenungkan kembali ungkapan ini. Apakah benar ada korelasi antara tubuh yang sehat dengan jiwa yang juga ikut sehat. Jiwa bisa bermakna spiritualitas dan emosionalitas. Kesehatan spiritual bisa berwujud antara lain yaitu kuatnya hubungan dengan Allah (taqarrub ilallah), muraqabah yaitu keyakinan bahwa Allah selalu melihat dirinya dan merasa selalu diawasi oleh Allah, kesediaannya untuk berbagi dan memberikan kemanfaatan bagi orang lain, kuat ibadahnya, kuat dzikirnya, serta memiliki niat yang kuat untuk menjalankan syariat Allah.

Sehat emosional (emosional quotion) adalah kemampuan diri seseorang untuk memahami dirinya dan memahami orang lain. Sebuah kemampuan mengenali diri dan mengendalikan diri serta kemampuan untuk berempati pada orang lain, memimpin diri, kemampuan berkomunikasi yang baik, kemampuan kerjasama, kemampuan sadar diri (self awareness), kontrol diri (self control).

Jika kembali kepada ungkapan di atas, maka benarkah pada diri yang sehat, fisiknya tidak berpenyakit, tubuhnya tegap lalu secara otomatis akan memiliki jiwa spiritual dan kecerdasan emosi yang sehat pula?. Apakah benar ada korelasi positif secara langsung, bahwa dalam tubuh fisik yang sehat akan memiliki jiwa yang sehat pula sebagaimana tersebut diatas ?.

Sepertinya saya tidak yakin hal demikian terjadi karena betapa banyak orang yang sehat fisik tubuhnya, tapi mentalnya rusak, suka minu-minuman keras , tidak bertanggung jawab terhadap diri dan amanahnya serta memiliki kepedulian yang rendah pada sekitar, tidak bisa mengontrol diri dengan baik, lemah kerjasama, lemah kepemimpinan. Bahkan menurut saya, fisik yang sehat tidak menjamin hubungan baiknya dengan Allah.

Namun saya percaya bahwa pada jiwa yang sehat, akan lahir dan muncul tubuh yang kuat. Jika seseorang memiliki rasa percaya yang tinggi kepada Allah, memiliki hubungan dengan Allah yang sangatom dekat, mudah menerima hidayah/petunjuk, rasa pedulinya kepada sesama sangat tinggi, maka pada hal yang demikian akan lahir fisik yang kuat pula sekalipun mungkin (secara fisik) pada awalnya (dianggap) lemah.

Mari kita perhatikan, bagaimana sahabat Bilal bin Rabah, seorang yang mungkin dianggap secara fisik tidak cukup kuat, kurus, berkulit hitam. Namun pada saat jiwanya sehat, rasa percayanys kepada Allah yang tinggi, bersedia menerima hidayah, maka sekalipun tubuhnya ditindih oleh batu di tengah terik panas matahari di atas padang pasir, saat dia dianiaya secara fisik oleh tuannya, Umayyah. Namun tiba-tiba, muncul kekuatan fisik yang luar biasa, yang menghilangkan segala rasa sakit atas tindakan aniaya itu.

Kekuatan fisik itu hadir di saat kekuatan mental spiritual yang berupa keyakinan dan kesediaan menerima petunjuk, memenuhi seluruh isi hati dan pikirannya, sehingga mampu melahirkan keajaiban fisik, itulah kekuatan kesehatan mental spiritual.

Demikian pula yang dialami oleh Nabi Ibrahim, dengan kekuatan mental spiritual yang tinggi, berupa keyakinan dan kepasrahan kepada Allah swt, sehingga mampu menghadirkan kekuatan fisik yang diluar kebiasaa. Sekalipun beliau dilempar ke dalam kobaran api, tubuh fisiknya tak mampu terbakar, karena kekuatan jiwa spiritualnya mampu mengalahkan segalanya, sehingga Sang Pemilik Jiwa yang setiap jiwa ada dalam genggamanNya, bersedia mengambil alih urusan kekuatan fisik nabi Ibrahim, sehingga lahirlah keajaiban (Miracle).

Demikianlah bahwa pada jiwa yang sehat akan melahirkan keajaiban fisik yang luar biasa, sehingga ungkapan yang lebih tepat adalah pada jiwa yang sehat ada tubuh yang kuat. Bahkan jika mental emosi spiritual sedang sakit, akan melahirkan fisik tubuh yang sakit pula. Dalam banyak kajian kesehatan modern disebutkan bahwa penyakit tidaklah semata disebabkan oleh adanya virus ataupun pola makan, melainkan lebih disebabkan oleh kondisi kesehatan mental emosi spiritual kita.

Disebutkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit, disebabkan oleh : 50% masalah spiritual 25% masalah psikis 15% masalah sosial dan 10% masalah fisik. Para profesor yang meneliti hal tersebut, bahkan menegaskan bahwa beberapa masalah emosi yang bisa membuat seseorang sakit-sakitan, diantaranya : apabila seseorang mengalami marah selama 5 menit akan membuat imun tubuh mengalami depresi selama 6 jam, perasaan dendam dan menyimpan kepahitan hidup akan membuat imun tubuh menjadi mati, dari sinilah bermula segala penyakit seperti stress, hipertensi, kolesterol, serangan jantung, rematik dan stroke, pendarahan atau penyumbatan pembuluh darah.

Jika seseorang membiarkan stress yang berlarut-larut akan membuat terjadinya gangguan pencernaan. Demikian pula, jika seseorang mudah khawatir akan membuat diri rentan terhadap penyakit nyeri punggung. Jika seseorang mudah tersinggung akan membuat cenderung terkena penyakit insomnia (kesulitan untuk tidur). Jika seseorang suka kebingungan atau gundah gulana akan membuat rentan terhadap gangguan tulang belakang bagian bawah. Selanjutnya jika seseorang sering membiarkan diri dalam ketakutan yang berlebihan akan mudah rentan terhadap penyakit ginjal. Bahkan jika seseorang suka berpikir negatif akan membuat rentan terkena penyakit dyspepsia atau penyakit sulit mencerna. Begitu pula jika seseorang mudah emosi dan cenderung pemarah akan membuat rentan terhadap penyakit hepatitis.

Sehingga untuk hidup sehat itu sebenarnya sangatlah simple dan mudah yaitu cukup bahagiakan pikiran dan hati kita, sehatkan mental emosi spiritual kita, maka in syaa Allah kesehatan fisik akan kita peroleh. Ketahuilah bahwa hati yang sehat lagi penuh gembira dan bahagia adalah obat.

Bagaimana menciptakan hati yang tenang, bahagia dan gembira ?. Maka solusi Allah swt sangatlah sederhana, yaitu Dekatilah Allah dengan dzikir dan ibadah maka pastilah hati menjadi tenang.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d : 28)

Semoga Allah swt memberikan kesehatan hati, mental, emosi dan pikiran pada diri kita agar tubuh fisik kita bisa menjadi sehat selalu sehingga bisa dengan mudah dalam beribadah dan bersyukur kepada Allah swt. Aamiiiin…

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 23.8.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com