Sumpahmu, Bertanggungjawablah

๐ŸŒฟ๐Ÿพ๐ŸŒฟ๐Ÿพ๐ŸŒฟ๐Ÿพ๐ŸŒฟ๐Ÿพ๐ŸŒฟ๐Ÿพ๐Ÿพ๐ŸŒฟ๐Ÿพ
*CAHAYA FAJAR*
———————————————————–

*SAMPAHMU, BERTANGGUNG JAWABLAH* โ€ผ
olehย  | AMS

Selepas solat subuh di salah satu masjid setelah keluar dari jalan tol arah pandaan malang, saya dibuat terkaget dengan satu pemandangan di sebuah area parkir bis yang terletak di sebelah masjid tersebut, terdapat sampah plastik berserakan di areal tersebut. Dan hal itu mengingatkan saya pada kejadian serupa yang sering terjadi pasca berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kita di Indonesia, tak luput pula setelah pelaksanaan ibadah shalat dua hari raya, yaitu sampah berserakan dimana-mana. Padahal bisa jadi beberapa menit sebelumnya sang khatib menyampaikan pesan mulia tentang keimanan dan hubungannya dengan kebersihan.

Saya jadi teringat pula dengan pengalaman beberapa waktu sebelumnya. Mungkin terasa aneh di telinga masyarakat kita bahwa tas kita atau saku kita yang menjadi kantong sampah kita. Kemana-mana kita bawa sampah kita sendiri. Saat makan, diri kita sendiri yang mengambil nampan, piring, sendok dan aneka makanan. Selanjutnya kita pulalah yang membersihkannya setidaknya meletakkan ke tempat rak kotoran nampan poring yang telah disediakan. Prinsipnya, jika meja makan kita pada awalnya bersih maka selesai makanpun tempat itu juga harus bersih seperti sedia kala. Tidak ada waiter khusus yang membersihkan dan melayani kotoran sampah makanan kita. Demikianlah budaya di eropa dan beberapa negara barat lainnya. Di hotel-hotel eropa tidak banyak disediakan waiter (pelayan) seperti halnya sebanyak hotel-hotel ataupun restauran di indonesia yang melayani untuk membereskan kotoran dan sampah makanan kita.

Di Eropa, sebagaimana di Ibis hotel tempat saya menginap di Kota Swiss beberapa waktu yang lalu (saat berkunjung ke tiga negara, Switzerland – Venesia-Italy pada 17 -19 November 2018), sedemikian pula tidak banyak pelayan. Setiap orang bertanggungjawab dengan makanannya sendiri termasuk sampahnya. Mereka sadar bahwa karena kita yang menikmatinya maka diri kita sendiri pulalah yang harusnya bertanggungjawab atas sampahnya. Jangan sampai orang lain yang tidak ikut menikmati malah dibuat susah dan repot atas sampah kita. Sehingga setiap orang yang makan setelahnya dia sendiri yang membawa dan meletakkan bekas piring, gelas dan sisa sampahnya di tempat yang telah disediakan. Barulah kemudian pihak pelayan hotel atau restoran yang nantinya akan mengambil dan membersihkannya. Bahkan mereka merasa malu disaat ia menyisakan kotoran dan bekas piring kotor lainnya di meja makannya tadi. Hal ini mungkin tampak sederhana. Namun demikianlah masyarakat barat memberikan pelajaran akan pentingnya rasa bertanggungjawab termasuk terhadap hal yang sepele. Kemudian marilah kita lihat dampaknya dalam kehidupan sosial yang lebih luas lagi. Kota-kota mereka tampak bersih, tidak terlihat sampah berserakan, bahkan sungainya pun terlihat indah dan bersih tanpa ada sedikitpun sampah.

Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan budaya di masyarakat kita. Kebanyakan kita saat ke restoran, tempat makan di hotel dan sebagainya selepas makan biasanya langsung ditinggal begitu saja setiap piring bekas makan dan kotoran makanan kita tergelatak berantakan di atas meja makan itu. Kita berpikiran bahwa nanti biarkan pelayan yang membersihkannya. Mungkin hal ini ada benarnya. Namun sikap demikian tidak mengajarkan rasa bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Kita yang menikmati lalu mengapa orang lain yang harus bersusah payah menanggung resikonya ?.

Tindakan ini sebenarnya tanpa sadar berdampak secara psikologis (intangible) atau lebih tepatnya memberikan informasi pesan di bawah sadar yang akan mempengaruhi pada tindakan besar lainnya.ย  Yaitu sikap tidak bertanggungjawab atas tindakan yang diambilnya atau bahkan cenderung melempar tanggungjawab pada orang lain. Dirinya hanya menikmati yang baik-baik saja sementara disetiap kesalahan dilempar tanggungjawabkan pada orang lain dengan mengatakan “itu bukan urusan saya”, “saya tidak ikut bertanggungjawab” dan sebagainya.

Tentu sikap demikian tidaklah bijak. Jika seorang pemimpin memiliki jiwa yang demikian maka bersiaplah para anak buahnya yang akan selalu menjadi “kambing hitam” atas setiap ekses kebijakan yang diambilnya. Lihatlah beberapa kasus korupsi yang terjadi, tidak sedikit bawahan dijadikan korban atas kebijakan yang diambilnya sementara pimpinan berlepas tanggungjawab setelah menikmati serangkaian kenikmatan material.
Tidak sedikit pula dari sebagian masyarakat ataupun pejabat yang tidak merasa malu atas kesalahan yang dilakukannya sementara dia telah menikmati serangkaian kenikmatan material.

Mungkin terlalu hiperbolis disaat menyatakan bahwa perilaku tersebut akibat cara kita makan dan memperlakukan sampah. Namun patutlah dipahami bahwa tindakan besar adalah bangunan hasil sebuah formulasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus menerus dilakukan sehingga membudaya. Dari budaya inilah perilaku besar itu tersusun yang kemudian menjadi bangunan karakter bersikap seseorang. Pepatah mengatakan, sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Benarlah nabi Muhammad bersabda bahwa janganlah kau anggap remeh suatu tindakan kebaikan walaupun hal itu sepele _(laa tahqiranna minal ma’ruufi syaiaaan)._

Bahkan secara tangible, ketidak pedulian atas sampah berdampak pada lingkungan sekitar. Kita bisa melihat di beberapa tempat tampak sampah berserakan karena kita dan masyarakat kita suka membuang sampah sembarangan bahkan tidak ada sedikitpun rasa malu saat membuang sampah di jalanan bahkan termasuk saat berkendara. Jalanan di kota-kota kita berserakan sampah, bahkan sungai pun menjadi tempat pembuangan sampah. Sehingga saat hujan tiba, banjir yang menggenangi kota membawa banyak sampah. Padahal masyarakat muslim kita memahami hadist nabi:ย  _annadhafatu minal iimaan, kebersihan adalah sebagian daripada iman_. Lalu kemana hadist tersebut selama ini ?. Astaghfirullah…

Hal ini tidak kita jumpai di beberapa kota di Eropa. Di swiss misalnya, kota tertata dengan sangat apik, rapih dan bersih dari sampah. Sungai-sungai yang melintasi kota bersih dari kotoran sampah. Bahkan lihatlah pula di venesia island, air laut yang melintasi setiap gang-gang jalan bersih dari sampah. Tentu kebersihan lingkungan ini tidaklah dengan serta merta terjadi. Namun semua ini adalah bermula dari tindakan-tindakan sepele secara personal domistik yang kemudian mewujud dalam tindakan sosial yang lebih luas lagi menjadi sebuah realitas lingkungan yang bersih.

Disinilah kita bisa belajar bahwa membangun budaya disiplin, bertanggungjawab, peduli haruslah mulai dari tindakan-tindakan yang sepele. Bangunan masyarakat yang beradab itu bermula dari fondasi perilaku-perilaku sepele yang bernilai kebaikan untuk kemudian secara konsisten dijadikan norma dan nilai budaya suatu masyarakat dalam bingkai bangunan karakter bangsa.

*Lalu bagaimana memulainya ?.* Mulai dari diri kita sendiri dan dari dalam keluarga agar setiap individu bertanggungjawab atas tindakannnya. Mulailah dari hal yang sepele dan jadikanlah sebuah pelajaran. Bertanggung jawablah atas sampah anda pribadi, jika anda menghasilkan sampah maka bertanggungjawablah, ambillah sampah anda, masukkan ke tempat personal anda (mungkin plastik, kertas dan sebagainya jika hal itu berupa sampah kertas atau plastik), bawalah hingga anda menemukan tempat sampah publik. Lalu buanglah sampah itu pada tempat sampah atau bawalah pulang.

*Ayo jadilah teladan dalam memperlakukan sampah, bertanggungjawablah atas diri kita sendiri, bawalah sampahmu sendiri lalu buanglah sampah pada tempatnya* katakan : pantang menyusahkan orang lain dan ayo wujudkan kebersihan bahwa ia adalah sebagian dari pada iman. Dan ini jangan hanya dijadikan sebagai sebuah jargon layaknya janji kampanye !

Semoga kita bisa mengawali kebersihan dari diri kita sendiri dan bertanggungjawab atas sampah diri kita sendiri dengan membuang sampah pada tempatnya dan tidak menyusahkan orang lain atas tindakan kita. Mari tunjukkan iman dari hal yang sepele. Semoga Allah selalu membimbing kita. Aamiiin…

byย  : Akhmad Muwafik Saleh. 11.7.2019
————————————————–
๐Ÿ€๐ŸŒผ๐ŸŒนโ˜˜๐ŸŒท๐Ÿƒ๐Ÿ‚โค๐ŸŒผโ˜˜

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kamiย  :
www.insandinami.com

๐Ÿ™ *AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN*