Memperhatikan yang Kecil

“Belajar kepekaan sangat penting, dan itu bisa dilatih dengan memperhatikan hal terkecil sekalipun” (Abi Ihya)

Awal kali mendengar term dzauq, atau kepekaan adalah kala diri ini menginjakkan kaki di altar suci almamater Pujon.

Dzauq dipahami sebagai hal yang lebih dikedepankan ketimbang ilmu. Dzauq adalah bagaimana kita bisa memahami orang lain dan segala sesuatu dengan peka, yakni tanpa loading yang lambat, cepat tanggap.

Ilustrasi yang konkrit dari dzauq seperti dikala seorang guru memanggil kita, ” Fulan, kemari!”. Sementara kita dalam kondisi badan yang masih kotor, maka kala kita mengedepankan dzauq, kita akan segera menyambut panggilan itu tanpa lagi peduli dengan penampilan kita yang masih belum bersih. Sebab kita tidak ingin membiarkan sang guru menunggu lama.

Baca juga: Kyai Zalim

Sebenarnya ilmu tentang hal ini tidak akan kita peroleh kecuali secara langsung berinteraksi dengan sohibuddzauq. Sebab ilmu seperti ini tidak akan kita temukan hanya melalui membaca buku.

Hanya saja, cara melatih dzauq adalah dengan memperhatikan hal-hal paling kecil, seperti dikala kita menyuguhkan secangkir kopi kepada tamu, gagang cangkirnya kita hadapkan kepada tamu tersebut, sehingga tamu kita tidak lagi perlu memutar cangkir terlebih dahulu sebelum ia meminum. Juga seperti kala ada banyak sandal didepan rumah kita, untuk memudahkan tamu atau orang yang punya sandal tersebut, kita putar dan tata sandal tersebut sehingga kala orang yang punya sandal keluar dari rumah dan hendak memakainya tidak lagi perlu membalikkan badan terlebih dahulu.

Maka dzauq adalah juga pelajaran tentang bagaimana menyenangkan dan memudahkan urusan orang lain mulai dari perkara remeh sekalipun.

Wallahu a’lam.

Diulas oleh Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain. Saat ini melanjutkan studi di Al-Azhar Mesir.