Punya Wirid di Asah Terus

“Orang wirid itu ibarat mengasah pedang, jika kita butuh kita tinggal tebaskan.” (Abi Ihya).

Pesantren di Jawa ada banyak ragam model, ada pesantren yang hanya fokus terhadap keilmuan saja, ada pesantren yang lebih mengedepankan wirid ketimbang ilmu, ada pesantren yang fokus terhadap keduanya, yakni keilmuan dan wirid.

Manhaj yang diterapkan Abuya al-Maliki adalah yang terakhir, yakni fokus sekaligus terhadap dua hal, ilmu dan wirid. Di pesantren Abuya di Rushaifah, para santri disibukkan untuk melakukan dua hal itu, jika tidak terkait ilmu maka wirid. Sebab dipahami bahwa ilmu seringkali menggoda pemiliknya untuk merasa sombong, dan hal itu bisa dinetralisir dengan wirid. Maka berbagai macam ratib dan hizib serta aurod yang terkumpul dalam kitab karya Abuya, seperti Syawariqul Anwar menjadi santapan wirid para santri tiap hari. Abuya pernah berkata: ” Seharusnya seorang santri memiliki bacaan wirid yang menjaganya dari kesesatan.”

Begitu juga di Nurul Haromain Pujon, pesantren yang masih dalam pengawasan Abuya al-Maliki itu juga menerapkan manhaj yang sama, ilmu dan wirid. Maka tak heran jika setiap selesai shalat, ada saja ratib, hizib, atau wirid yang dirutinkan para santri.

Membaca wirid ibarat mengasah pedang, seorang santri jika berada di pesantren selama tiga tahun saja semisal, bukankah telah ratusan kali membaca wirid-wirid itu? Bukankah berarti pedang yang ia perlukan kelak di masyarakat telah ia asah sedemikian rupa?

Kebutuhan akan wirid dirasa sampai pada wilayah yang urgen, karena tidak mungkin seseorang berdakwah ditengah masyarakat hanya mengandalkan keilmuan yang ia miliki, dakwah model seperti itu akan hambar dirasakan masyarakat. Apalagi jika harus menghadapi teror dan ancaman dari pihak-pihak yang gerah dengan dakwah yang kita lakukan, kebutuhan akan hal satu ini menjadi semacam pelumas yang bisa melancarkan kebuntuan-kebuntuan yang terjadi.

Akhir catatan, Jika seorang polisi memiliki pistol untuk menyerang dan tameng sebagai pelindung, maka pistol dan tameng seorang santri adalah ilmu dan wirid. Sehingga akan terbentuk suatu keseimbangan yang indah.

Wallahu a’lam.