Bagaimana Isi Botol-mu?

CAHAYA FAJAR | BAGAIMANA ISI BOTOL-MU ?
oleh | AMS

Pernahkah kita berpikir akan sebuah botol kosong. Mungkin ia menjadi tidak berharga manakala dibiarkan kosong demikian. Namun kalau ia diisi dengan mineral maka harganya akan menjadi tiga ribuan, jika diisi jus buah harganya bisa sepuluh ribuan, jika diisi dengan madu murni harganya bisa ratusan ribu, namun jika diisi minyak wangi maka harganya bisa menjadi jutaan. Sebaliknya jika botol itu diisi air comberan maka hanya akan dibuang ke tong sampah karena tidak ada harganya dan bahkan mungkin menjijikkan.

Semua itu sama-sama dikemas dalam sebuah botol tapi berbeda nilainya sebab isi yang ada di dalamnya berbeda. Begitu juga dengan diri kita. Setiap kita tercipta dan terlahir sama sebagai manusia. Namun hanyalah kualitas isi yang ada dalam diri kita, pikiran dan hati kita yang membedakannya.

Demikianlah dengan diri kita, kualitas kita ditentukan oleh hati, perasaan dan pikiran. Ketiga komponen ini yang membentuk diri secara keseluruhan, hati, perasaan dan pikiran membentuk tindakan-tindakan. Tindakan yang dilakukan secara terus menerus membentuk kebiasaan Habit perilaku yang dibiasakan terus-menerus akan membentuk budaya culture dan dari budaya inilah lahirlah karakter penciri khas yang menandakan tentang siapa diri kita karakter itulah diri kita yang sesungguhnya.

Benarlah apa yang disampaikan Allah dalam firmannya :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al-Hujurat: 13)

Kualitas diri kita ditentukan oleh ketaqwaan kita kualitas Taqwa bermula dari pikiran kita yang bersumber dari 6 unsur nilai keimanan yaitu keyakinan yang kokoh dalam fikiran akan Allah keyakinan yang utuh akan malaikat yang memiliki beragam tugas mendampingi manusia dalam menjalani berbagai realitas kehidupannya keyakinan yang menghujam dalam tindakan akan Rasulullah keyakinan akan panduan kehidupan yang bersumber dari Allah berupa kitab-kitab nya keyakinan atas batas waktu yang dimiliki manusia dan masa pertanggungjawaban di akhirat dan keyakinan bahwa segala realitas Apapun Yang Terjadi adalah merupakan ketetapan terindah dari Allah takdir

Bermula dari keyakinan dalam fikiran lahirlah tindakan perilaku kebiasaan budaya dan karakter. Jika hati dan pikiran kita diisi dengan segala hal yang bernilai keburukan, iri, dengki, hasad, sombong, kepada sesama manusia terlebih terhadap agama Allah sehingga menjadikan dirinya rela mengorbankan agamanya untuk dunia, iri terhadap orang yang melakukan ketaatan agama sehingga rela menfitnah mereka dengan berbagai tuduhan keji, maka itulah pribadi yang rendah di hadapan Allah swt.

Mereka yang berperilaku buruk, suka mendengki, iri hati, hasud, fitnah, sombong adalah hasil dari keyakinan yang lemah atas enam rukun iman itu. Mereka seakan tidak percaya bahwa Allah Maha mencatat segalanya melalui malaikat nya, mereka seakan tidak percaya bahwa perilaku demikian dilarang dalam kitab-kitab nya, Mereka pun seakan tidak percaya bahwa Rasulullah telah memberikan contoh terbaik baginya, Mereka pun seakan tidak percaya bahwa ada hari pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya itu.

Demikian pula dengan orang yang meragukan agamanya sehingga mereka masih melirik nilai-nilai yang lain, seakan mereka merasa bahwa nilai agama ini kurang sempurna dan perlu menyempurnakannya melalui nilai-nilai yang ada pada agama lainnya sehingga mereka mengatakan bahwa semua agama itu sama, sama-sama membawa kebaikan, kebenaran juga ada pada agama lainnya, sehingga perlu mengolah berbagai kebaikan dan kebenaran dari beragam sumber itu menjadi satu, itulah yang kita kenal dengan liberalisme keyakinan, pada mereka itu seakan tidak percaya bahwa agama Islam ini adalah sesempurna nya agama, dia tidak yakin bahwa satu-satunya agama yang paling benar dan diridhoi oleh Allah hanyalah Islam, pada yang demikian mereka telah meragukan Islam dan mereka memiliki keraguan dalam keyakinan inilah seburuk-buruknya pikiran dan seburuk buruknya kualitas kepribadian diri seseorang. Sebagaimana Allah berfirman :

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu (wahai Muhammad) Termasuk orang-orang yang ragu  (QS.albaqoroh : 147)

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Maka Patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, Padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Robmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali Termasuk orang yang ragu-ragu .(QS.al an’am :114)

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, Maka Tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Robmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.(QS.yunus : 94)

Jadi kualitas diri bukanlah semata ditentukan oleh tingginya ilmu pengetahuan atau pula dalam kemampuannya bersilat lidah dalam ragam argumentasi rasionalitas, namun kualitas pribadi ditentukan oleh seberapa dekat dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tentang bagaimana dirinya memahami sumber Wahyu dengan benar, dengan pikiran yang lurus dalam bimbingan Hidayah petunjuk Allah swt melalui ilmu dan pemahaman yang bersih tanpa dikotori oleh virus dan penyakit pikiran yang meragukan serta sejauh mana dia mengimplementasikan nilai-nilai kebenaran Islam dalam perilaku keseharian dan hubungan kemanusiaan, itulah penentu kualitas kepribadian seseorang.

Akhirnya marilah kita lihat dan menilai diri kita masing-masing tanpa harus menunjukkan jari pada orang lain Bagaimana kualitas diri kita apa yang kita isikan pada botol diri kita ini. Selamat mengisi botol ‼ dan jadilah diri anda pribadi.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu membimbing kita di jalannya dengan hati dan pikiran yang bersih lagi lurus dan semoga dijauhkan dari kegenitan berfikir yang menjadikan diri kita semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran agama yang dipahami oleh orang-orang generasi terbaik agama ini salafush sholeh. Aamiin……

AMS.12.6.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN