Tidak Ada Alasan Merasa Aman

Khutbah Jum’at | Tidak Ada Alasan Merasa Aman
oleh | Abina KH. Ihya’ Ulumiddin.

Sidang Jum’at hafidhokumulloh,

Alloh tabaaraka wata’ala berfirman:

“Dan bacakanlah kepada mereka tentang agama yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda). Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya…” (QS. Al A’raf: 175-176)

Sesungguhnya doa pertama yang diajarkan Alloh kepada para hamba-Nya yang berserah diri (kaum muslimin), yaitu orang-orang yang Alloh telah Memilih mereka di antara makhluk-Nya, adalah firman Alloh yang artinya, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, maksudnya teguhkan kami di atas jalan itu dan langgengkan ia untuk kami. Akan tetapi nikmat memang terkadang dihilangkan dari orang yang tidak bisa menghargai dan tidak pula menjaganya. Karena itulah Alloh ta’ala berfirman, “…nanti Kami akan memberikan kepada mereka lanjuran nikmat  yang lupa tersyukuri dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al A’raf: 182)

Maksudnya kami menyempurnakan nikmat-nikmat atas mereka sekaligus juga melalaikan mereka dari bersyukur, juga sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:k

Kamu berbaik sangka kepada hari-hari kala ia (terus memberikan) kebaikan
Sementara kamu tidak pernah mengkhawatirkan hal yang datang bersama takdir
Malam-malam berlalu dengan keselamatan sehingga kamu pun terbuai
Sehingga pada suatu malam terjadilah kekisruhan itu

Dan seperti dikatakan dalam hikmat:

Tidaklah burung itu terbang dan meninggi kecuali juga terbang dan (lalu) terjatuh

Bila demikian halnya maka tidak ada alasan apapun untuk merasa aman, melupakan kesyukuran, dan membiarkan diri untuk tidak memelas memohon perlindungan (Alloh).

Sidang Jum’at hafidhokumulloh,

Bagaimana mungkin kita aman sedangkan:

  • Al Khalil Ibrahim as. saja masih memohon kepada Alloh: “…dan jauhkan diriku dan anak keturunanku dari menyembah berhala.” Ibrahim: 35.
  • Yusuf As Shiddiq saja memohon kepada Alloh: “…wafatkanlah daku dalam keadaan berserah diri (kepadaMu) dan gabungkanlah diriku dengan orang-orang shaleh.”

Jadi, betapa kita begitu membutuhkan, benar-benar sangat membutuhkan akan keteguhan dalam agama pada situasi masa yang genting ini. Dan sungguh dikatakan dalam kata hikmah:

Pasti ada pengganti segala sesuatu yang anda tinggalkan
Tetapi tidak ada pengganti bagi Alloh, jika kamu meninggalkan-Nya
Jika dunia masih menyisakan agama bagi seseorang
maka segala sesuatu yang terlepas darinya sama sekali tidaklah membahayakan

Adalah Sufyan at Tsauri rahimahullah mengatakan:

Tidaklah seorang merasa aman dari bahaya agama kecuali agama itu tercabut (darinya).

Dan tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang terbina kecuali harus meneguhkan hatinya atas Islam, sesuatu yang telah ditetapinya pada saat ini dengan menjalankan hal-hal yang telah direkomendasikan pada tausiah kami terdahulu sehingga ia memiliki dua simpanan besar yang mahal harganya berupa ISTIQOMAH dan ISTIZADAH (terus mencari tambahan) agar nikmat-nikmat itu langgeng baginya, tidak merasa takut akan kehilangan sekaligus diberikan tambahan nikmat-nikmat yang belum pernah diberikan sehingga iapun tidak perlu khawatir tidak akan bisa mendapatkannya, serta datang pula dari Alloh sesuatu yang sama sekali tidak terlintas dalam hatinya, disertai permohonan yang terus menerus kepada Alloh dalam suasana sendiri atau bersama orang lain, berupa:

Ya Tuhan kami, jangan sesatkan hati kami setelah Engkau Memberikan petunjuk kepada kami. Dan anugerahkan kepada kami rahmat hanya dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat.”

“Ya Alloh, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan, tekad bulat dalam kebenaran. Saya memohon kepada-Mu bisa mensyukuri nikmat-Mu. Saya memohon kebaikan ibadah kepada-Mu. Saya memohon kepada-Mu hati yang selamat. Saya memohon kepada-Mu lidah yang jujur. Saya memohon kepada-Mu kebaikan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Saya memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Dan saya memohon ampunan atas dosa (ku) yang Engkau mengetahuinya.  Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.”

“Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

[]