Meraih Jiwa Yang Indah, Lapang, dan Tentram Dengan Cara Nabi

oleh | Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini melanjutkan studi di Al-Azhar Mesir.

Syaithan akan terus mengajak kita untuk menggagalkan melakukan kebaikan. Sebab perilaku kebaikan merupakan perbuatan yang sering dilakukan oleh hamba yang sholih.

Maka dalam hal apapun, semestinya kita melakukan hal-hal yang bersebrangan dengan kebiasaan yang dilakukan syaithan. Jika syaithan makan dan minum dengan memakai tangan kiri. Maka kita harus berusaha memakai tangan kanan. Rasulillah bersabda:

ﺇﺫا ﺃﻛﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻠﻴﺄﻛﻞ ﺑﻴﻤﻴﻨﻪ، ﻭﺇﺫا ﺷﺮﺏ ﻓﻠﻴﺸﺮﺏ ﺑﻴﻤﻴﻨﻪ ﻓﺈﻥ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻳﺄﻛﻞ ﺑﺸﻤﺎﻟﻪ، ﻭﻳﺸﺮﺏ ﺑﺸﻤﺎﻟﻪ
Dikala kalian hendak makan, makanlah dengan memakai tangan kanan. Dikala hendak minum maka minumlah dengan tangan kanan. Sebab sungguh Syaithan makan dengan tangan kiri. Dan minum juga memakai tangan kiri.

Lain dari itu, memakai tangan kanan merupakan isyarat memulyakan nikmat Allah. Sebab nikmat Allah memiliki hak yang mesti ditunaikan, yakni bersyukur dengan memuliakan nikmat itu, tidak merendahkannya.

Memakai tangan kanan juga bisa membuat jiwa kita akan menjadi indah (thibunnafsi) karena efek dari menaruh sebuah hal pada tempatnya.

Dalam hidup kita semestinya berusaha mempunyai jiwa yang indah (thibunnafsi), yang lapang (insyirohunnafsi), sekaligus yang tenang nan tentram (ithmi’nanunnafsi). Maka cara meraihnya adalah dengan menaruh sebuah hal pada tempatnya untuk meraih keindahan dalam jiwa, tabah dan sabar (tahammul) untuk mendapatkan kelapangan jiwa, dan dengan dzikir kepada Allah untuk memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa.

Jiwa yang indah, lapang, dan penuh dengan ketenangan adalah bagian apa yang disebut oleh Rasulillah sebagai “Ghinan Nafsi”. Dalam sebuah hadits disebutkan:

ليس الغنى عن كثرة العرض و لكن الغنى غنى النفس
Bukanlah kekayaan dengan memiliki banyak harta benda akan tetapi yang dimaksud dengan kaya adalah dengan kayanya hati.

Selain dalam masalah makan dan minum, memakai tangan kanan juga seharusnya dilakukan ketika seseorang hendak mengambil atau memberikan sesuatu kepada orang lain. Juga dalam hal-hal lain yang dinilai baik oleh agama.

Dulu ada seorang yang diperingatkan Rasulillah untuk makan memakai tangan kanan. “Makanlah dengan tangan kanan!”. Akan tetapi orang itu justru menjawab: “Oh, tidak bisa saya”. Ia menjawab dengan nada jumawa. Maka Rasulillah pun menanggapi: “Ia kau takkan bisa!”. Sehingga pada akhirnya orang itu benar-benar tidak bisa mengfungsikan tangan kanannya. Tangan itu seolah lumpuh. Menurut Ibnu Mandah orang itu adalah Busur bin Ro’il ‘Aidi al Asyja’i.

Dalam makan hendaknya kita tiada lupa membaca basmalah dan doa, menggunakan tangan kanan, makan dari sisi tepi piring. Jika makan bersama-sama maka seharusnya kita tidak mengambil kecuali makanan yang ada di hadapan kita. Yang disebut terakhir ini menurut Imam Syafi’i adalah sebuah kewajiban. Karena ungkapan perintah menunjukkan isyarat wajib. Sehingga jika kita hendak mengambil makanan yang tidak dihadapan kita, kita mesti izin dengan pihak yang bersangkutan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

كل مما يليك
Makanlah apa yang dihadapanmu!

Demikianlah figur Rasulillah, beliau adalah sosok Nabi yang mengajarkan ummatnya tidak hanya dalam masalah-masalah besar saja, akan tetapi bahkan perkara-perkara kecil semuanya diajarkan adab-adabnya oleh beliau. Beliau adalah seorang Murobby paling utama dan sempurna. Sebab secara definitif, yang dimaksud dengan Murobby adalah sosok figur yang mengajarkan hal-hal kecil sebelum yang besar.

Wallahu ta’ala a’lam