Sejenak Pagi #362 | Romadhon 23

Sejenak Pagi #362 | Romadhon 23

Romadhon 23, Alhamdulillah masuk Romadhon ke 23

Saudara dan sahabatku….

Tak lama lagi kita akan berpisah dengan bulan Ramadhan.

Laksana bahtera, perlahan ia mulai mengangkat jangkar dan siap untuk berlayar. Sebelas bulan lamanya dia akan meninggalkan kita, untuk kemudian berlabuh kembali di hati-hati orang-orang yang beriman pada tahun berikutnya..

 

Ibarat sang surya, perlahan ia mulai tenggelam bersama megah merah di ujung ufuk.

 

Semua begitu cepat..

Hangatnya dekapan kedatangannya belum juga hilang, kini ia kembali mendekap untuk pergi.

 

Baru kemarin kita mengucap marhaban ya ramadhan, dan hari ini kita harus mengucap mahlan (pelan-pelan) wahai ramadhan.

 

Tapi yang jelas dia masih di sini. Dia belum berlayar ataupun tenggelam.

 

Untukmu yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan beragam kebaikan, maka sempurnakan amalanmu di sisa waktu yang ada. Namun bila sebaliknya, bila selama ini engkau tenggelam dalam kelalaian,

Romadhon 23, maka perbaikilah amalanmu sebelum ia benar-benar pergi berlalu.

Baca Juga : Sejenak Pagi #361 | Romadhon 22

Ingatlah.!!

Bahwa amalan itu dinilai pada akhirnya.

Bila engkau kehilangan awal ramadhan, maka jangan sampai engkau kehilangan akhirnya.

Bila engkau lalai pada awalnya, maka kini masanya untuk bersungguh-sungguh untuk akhir yang indah.

 

Suatu kali Fudhail bin Iyadh pernah bertemu dengan seseorang.

Beliau lantas bertanya padanya:

“Berapa umur anda?”.

“Enam puluh tahun”, jawab laki-laki itu.

“Kalau begitu sejak enam puluh tahun yang lalu anda sudah berjalan menuju Alloh, dan perjalananmu hampir saja tiba.”

“Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn”, ujar lelaki itu.

“Apakah anda tahu maknanya?” Tanya Fudhail.

Lelaki itu menjawab: “Ya, saya tahu. Saya adalah hamba Alloh dan hanya kepada-Nya saya akan kembali.”

Fudhail lalu menasehatinya:

 

“Wahai saudaraku…

Barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Alloh Ta’ala dan hanya kepada-Nya ia kembali, hendaknya dia juga menyadari bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya dan akan ditanya (oleh-Nya). Dan barang siapa yang menyadari bahwa dirinya akan ditanya maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.”

 

Laki-laki itu pun menangis lantas bertanya kepada Fudhail:

 

“Lalu apa yang harus aku perbuat?”

 

“Mudah”, jawab Fudhail.

 

“Apa? Semoga Alloh Ta’ala merahmatimu.” Tanya laki-laki itu lagi.

 

Fudhail menjawab, ”

“Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu. Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu.”

 

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna

Romadhon 23, Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin