Pelajaran Istiqomah dari Abuya Al-Maliki

oleh | Ibnu Hisyam

Kata Abuya : Senjatamu adalah tahajjud, sedangkan pencari ilmu senjatanya adalah buku dan polpen. Maka seorang penuntut ilmu semestinya tidak sembarangan memakai pulpen. Jika memungkinkan seharusnya kita selektif dalam mencari pulpen, jangan memakai pulpen murahan. Sehingga tulisan baru berusia tiga tahun sudah luntur dan sulit dibaca. Jika perlu pakai pentul (pen tutul). Bahkan jika memungkinkan maka seharusnya menulisi hanya pada satu sisi buku saja untuk menghindari rusaknya buku ketika sudah tua usianya.

Abuya selalu mengajarkan para santri untuk senantiasa bercengkrama dengan Polpen, Buku dan Tasbih di saku, sebagai sebuah cara pembiasaan untuk berdzikir dan menulis. Tidak apa kalaupun yang ditulis bukan ilmu melainkan hanya pengalaman dan hal-hal kecil lain yang dia alami. Seperti yg dilakukan Abuya saat masih kuliah yang selalu menulis semua pengalaman beliau dari pagi hingga malam.

Ustadz Syihab yang merupakan santri didikan Abuya bahkan menekankan para santri agar mengusahakan diri untuk memiliki 1 tasbih (sekalian yang mahal) dan digunakan berdzikir pada Alloh hingga anak cucu. Begitu juga dengan Al Qur’an yang kita baca secara khusus secara istiqomah, jangan gonta-ganti, sebab siapa tahu bisa menjadi saksi kita kelak. Abuya sendiri juga mempunyai tongkat yang beliau pakai selama 15 tahun tetapi hilang di bandara. Abina juga mempunyai 1 sorban yang sudah lama dipakai dari Abuya. Pelajaran tentang istiqomah.

Haul Abuya Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.