Musibah Harian

CAHAYA FAJAR | MUSIBAH HARIAN
oleh | AMS

Selama ini kita menganggap bahwa musibah itu adalah hal yang bersumber dari luar diri kita. Semisal bencana alam, sakit, kesulitan ekonomi dsb. Padahal ada musibah yang sangat dekat dengan diri kita, melekat dalam diri dan bahkan musibah ini terjadi setiap saat dalam keseharian kita namun jarang kita sadari.

Terlebih aneh lagi, setiap kita sangat sedih, gelisah, panik dan penuh ketakutan bahkan mungkin bisa mengakibatkan diri seseorang stress memikirkannya disaat musibah-musibah yang bersumber dari luar diri kita itu menimpa diri kita. Sementara musibah yang bersumber dari internal yang secara integratif berada dalam diri kita tidak begitu dirisaukan, tidak panik bahkan kita tidak mau peduli dan tidak ambil pusing dengan semua musibah itu, padahal itu terjadi menimpa diri kita setiap harinya.

Apa saja musibah yang menimpa diri kita setiap hari nya yang jarang kita sadari ?

Pertama, umur kita yang berkurang setiap hari. Kebanyakan orang jarang cemas, jarang panik atas umur yang setiap saat, setiap hari terus hilang dan berkurang . Namun kebanyakan kita mudah cemas dan panik jika harta berkurang, omset berkurang, simpanan berkurang, kendaraan atau sarang berharga hilang bahkan sering panik dan terus kepikiran memikirkan hal itu hingga stress.

Sementara umur yang punya setiap detiknya terus berkurang dan hilang begitu saja tanpa ada bekas dan tak mungkin bisa kita cari dan tak bisa kembali lagi. Kita sering lupa dan melupakannya lalu tiba-tiba usia telah senja sementara waktu berlalu begitu saja tanpa bekas. Ilmu agama ternyata banyak yang belum diketahui, lisan masih terasa kelu membaca alquran karena waktu selama ini tidak dipergunakan untuk mempelajarinya, dsb.

Umur kita telah berlalu bersamaan dengan perjalanan waktu yang keduanya tidak akan pernah bisa kembali, jika tidak mampu memanfaatkannya maka akan banyak pencuri yang akan mengambilnya. Pencuri umur dan waktu yang paling kejam serta jahat adalah kesia-siaan. Dia akan membiarkan keduanya berlalu begitu saja tanpa jejak kebaikan sedikitpun.

Kesia-siaan sering kali akibat sikap bermalas-malasan, suka menunda kebaikan dan hidup tanpa perencanaan. Sementara sikap sia-sia berlawanan dengan kebaikan islam.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi)

Janganlah kemudian kita menyesal karena waktu yang telah berlalu dan usia semakin tua, kondisi semakin renta, dan semua telah berlalu dan segalanya telah terlambat.

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)

Kedua, harta yang kita makan. Setiap hari kita makan harta tapi seringkali lupa bahwa setiap apa yang dimakan itu akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang dari mana didapatkannya dan bagaimana kita men-tasharruf-kannya (membagi, mendistribusi). Jika kita memperolehnya dengan cara yang halal maka akan dihisab dan dibalas dengan kebaikan namun sebaliknya jika didapatkannya dari cara yang haram maka akan diazab oleh Allah swt. Tidakkah hal ini akan menjadi musibah yang sangat berat bagi kita ?.

Dalam sebuah atsar sahabat, Abu bakar menyatakan :

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)

Ketiga, setiap hari kita sejatinya semakin mendekati akhirat dan semakin jauh meninggalkan dunia. Disaat setiap hari umur kita berkurang maka sebenarnya kita semakin mendekat pada kematian sebatas batas waktu masa hidup kita di dunia. Namun anehnya kebanyakan dari manusia malah mati-matian mengejar dunia padahal dia tidak akan dibawa ke akhirat, sementara dia tidak bersungguh-sungguh untuk mempersiapkan bekal agar dapat hidup lebih baik di kehidupan setelah kematian. Padahal akhirat adalah sebaik-baiknya tempat kembali dan abadi.

وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ

padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la : 17)

Namun hal ini tidak dipahami oleh orang-orang yang ingkar, mereka lebih memilih dunia dan menganggap dunia adalah kehidupan abadi padahal tidak kekal sama sekali.

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. (QS. Al-A’la : 16)

Orang yang dibuat lalai dan terbuai dengan dunia melupakan musibah ini, bahwa dirinya setiap detik sejatinya semakin dekat dengan kematiannya dan meninggalkan jauh dunianya, usianya bertambah namun umurnya semakin berkurang.

Padahal semua itu pada saatnya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah swt tentang berbagai nikmat harian yang telah kita lupakan itu. Nabi bersabda :

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu). (HR. Tirmidzi)

Semoga diri kita senantiasa diberi bimbingan dan petunjuk dari Allah swt sehingga mampu menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya penuh kemanfaatan dalam bingkai ketaatan dan kepatuhan kepada Allah swt dan dijauhkan dari kesia-siaan hidup. Semoga Allah swt mengampuni dosa-dosa kita. Aamiiiinnn……

AMS.18.4.19
————————————————–
Penulis buku-buku berjudul : Hati Nurani Series

Klik : www.insandinami.com