Kesalahan Dipandang Indah

Kesalahan Dipandang Indah
oleh Abina KH. Ihya’ Ulumiddin

 

Firman Alloh Subhanahu Wata’ala dalam QS Al An’aam: 122

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

 

Analisis Kata

  • مَيْتًا (maitan) artinya yang mati, yaitu bahasa sindiran atas kekufuran, kebodohan (ketidaktahuan), kerusakan dan ketersesatan.
  • إِحْيَاءُ (أَحْيَا) (ihya’) artinya menghidupkan, yakni bahasa yang mengibaratkan keimanan, petunjuk dan taufiq.
  • نُوْرً (nur) artinya cahaya, adalah bahasa lain dari Islam, Al Qur’an atau cahaya keimanan. Lawannya adalah الظُّلُمَاتُ (adl dlulumaat)
  • زُيِّنَ (zuyyina) dari kata زَيَّنَ يُزَيّنُ تَزْيِيْنًا artinya dihiasi atau dipandang indah. Pelakunya (yang menghiasi atau yang menjadikan pandangan indah) tidak ditampakkan. Hal itu bisa jadi karena pelakunya sudah dikenal secara umum, yaitu siapa lagi kalau bukan setan, baik yang berbentuk manusia, maupun jin.

 

Asbabun Nuzul

Pada mulanya ayat tersebut turun dengan sasaran pertama dua insan yang berbeda jalan pemikirannya, yaitu Ammar bin Yasir atau Umar bin Khoththob sebagai pihak yang diceritakan “sudah mati” lalu “dihidupkan” dan diberikan cahaya kepadanya. Pihak lainnya ialah Abu Jahal yang disebutkan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari kegelapan itu.

Menurut suatu riwayat, Abu Jahal melempari baginda Nabi saw dengan kotoran unta. Kejadian tersebut sampai kepada Hamzah yang waktu itu baru saja kembali dari berburu. Busur panahnya masih dipegang di tangannya. Paman Nabi yang saat itu belum memeluk Islam ini menemui Abu Jahal dan sekonyong-konyong dia memukulkan busur panah itu di kepala musuh Alloh Ta’ala. Abu Jahal berkata, “Apakah kamu tidak tahu ajaran yang dia bawa? Dia memperbodoh akal kita dan menghina tuhan-tuhan kita.” Hamzah menukas, “Dan kamu adalah orang yang jauh lebih bodoh karena kamu menyembah batu mengesampingkan Alloh Ta’ala. Aku bersaksi tiada Tuhan melain Alloh yang Esa yang tiada bersekutu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Mengiringi kejadian tersebut turunlah ayat di atas.

Penjelasan Ayat

Dengan ayat dia atas Alloh Ta’ala memberikan gambaran tentang perbedaan yang cukup signifikan (berarti) antara orang yang beriman dengan orang yang kafir. Penggambaran ini dimaksudkan untuk mengajak kita bersama berfikir akan ahwal (keadaan) dua kelompok itu sehingga nantinya diharapkan kita bisa memilih bergabung kepada salah satunya secara pas. Atas dasar ini, ajaran Islam bukanlah sekedar ajaran yang bersifat doktrin atau dogma. Akan tetapi, ajaran Islam juga melibatkan unsur pemikiran manusia secara seimbang dan bebas.

Digambarkan bahwa orang itu manakala tidak beriman ibarat dia mati, bingung, atau tersesat, bahkan sempoyongan di dalam kegelapan. Karena tak ada cahaya, maka tetaplah dia selamanya di dalam kegelapan itu. Manakala dia beriman maka jadilah dia hidup. Demi kehidupan dia, diajarkanlah Al Qur’an yang merupakan cahaya yang akan menerangi terus cara hidupnya yang penuh rintangan sehingga dia bisa membedakan antara haq dengan batil, antara kebaikan dengan keburukan. Dengan demikian, jelas sekali ketidaksamaan orang yang beriman dibanding dengan orang kafir.

Penegasan akan perbedaan yang cukup signifikan antara dua pihak ini dapat dijumpai pada banyak ayat Al Qur’an.

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَاْلاَعْمَى وَاْلاَصَمّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً اَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

Perbandingan kedua golongan itu (mukmin dengan kafir) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka, tidakkah kamu mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)? (QS Huud: 24)

وَمَا يَسْتَوِي اْلاَعْمَى وَالْبَصِيرُ – وَلاَ الظُّلُمَاتُ وَلاَ النُّورُ

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. (QS Fathir: 19-20)

Pada ayat di atas tampak ada unsur khas yang membuat perjalanan orang yang beriman demikian lurus di masyarakat. Unsur khas itu ialah Al Qur’an. Baginya Al Qur’an adalah pedoman dan pandangan hidup sekaligus sebagai sumber hukum di atas sumber-sumber hukum. Sebelum itu tentulah orang yang beriman telah melalui proses belajar membaca, memahami makna, dan mengkaji kandungannya. Ibaratnya tiada hari tanpa Al Qur’an. Mereka bangga dengan kitab suci itu. Lihatlah para sahabat yang rata-rata menjadikan rumah mereka madrasah Al Qur’an. Dari situ lahirlah muslim yang benar-benar berkualitas, yang stabil di dalam aqidah dan syari’ahnya. Sementara yang kita lihat saat ini, Al Qur’an secara umum baru dipandang sebagai bacaan, belum sampai ke tingkat pemahaman dan kajian karena memang masih mandeg didalam proses awal (seluk beluk membaca). Di pihak lain sebagian kita memahami Al Qur’an, namun pemahaman itu malah tidak menyentuh kalbu. Ibaratnya, isi Al Qur’an itu diletakkan di belakang punggungnya. Otomatis pernyataan “Al Qur’an imam kami” hanyalah omong kosong. Sentuhan Al Qur’an memang tidak masuk pada jiwa yang kotor dan busuk.

Di dalam ayat di atas pun disinggung, mengapa demikian kokoh (enjoy) orang kafir memegangi kekufurannya? Mengapa tidak bergegas keluar dari kubangan yang penuh dosa? Terlihat kekokohan ini merupakan jasa besar setan yang menghiasi kekufuran itu sehingga tampak seakan-akan baik dan indah. Umpamanya pornografi (membuka aurat) pun dipandang seni. Zina dipandang bekerja. Mengikuti riba dipandang membantu, dan sebagainya. Atas peran setan yang demikian besar, baik setan yang berbentuk manusia maupun jin, kita mendapati pengaruhnya, yaitu sistem kufur itu benar-benar kokoh dan tangguh. Ada sekian ribu dalih untuk mempertahankan kekufuran yang sudah tidak lagi dipandang salah itu. Alloh Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلاِنسِ  وَالْجِنّ يُوحِـي بَعْضُهُمْ اِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ – وَلِتَصْغَى اِلَيْهِ اَفْئِدَةُ  الَّذِينَ لاَ يُـؤْمِـنُونَ بِاْلآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka  (setan) kerjakan. (QS Al An’aam: 112-113)

        Di sinilah pentingnya kita melakukan studi, berfikir, dan berupaya memilih soal perbedaan haq dengan batil di satu sisi dan di sisi lain kita jangan terjebak tradisi dan budaya ikut-ikutan (mengekor) tiap ide dan tingkah laku yang disuguhkan sebagaimana diajarkan oleh Alloh Ta’ala.

Mahabenar Alloh atas segala firmanNya.