Hukum Membayar Hutang Puasa

Bagaimana Hukum membayar hutang puasa  isteri dibayarkan oleh suami karena isteri tidak kuat sebab hamil dan menyusui?

Jawaban:

Membayar hutang puasa orang lain memang ada dalam syariat Islam yaitu ketika orang lain tersebut meninggal dunia. Aisyah ra meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barang siapa mati dan masih mempunyai kewajiban (hutang) puasa maka walinya bisa berpuasa untuknya” Muttafaq Alaihi.

Dalam riwayat lain disebutkan ada seorang lelaki datang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Ibu saya meninggal dalam keadaan mempunyai hutang puasa sebulan. Apakah saya bisa mengqodho’ untuknya? “ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana menurutmu jika ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu akan melunasinya?” lelaki itu menjawab, “Dia” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika begitu, hutang (kepada) Allah lebih berhak untuk dibayar” Muttafaq Alaihi.

Baca juga: Aturan Shof Shalat

Sementara itu bagi wanita hamil dan menyusui diperbolehkan bagi mereka tidak berpuasa, tetapi wajib bagi mereka untuk mengqodho’ karena mereka ternasuk dalam kategori orang yang sakit, “… barang siapa sakit atau sedang dalam perjalanan maka…” QS al Baqarah:.

Dalam madzhab Abu Hanifah, wanita melahirkan atau menyusui hanya wajib mengqodho’ saja lepas apakah mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri sendiri atau bayi. Sementara Madzhab Syafii mewajibkan membayar Fidyah jika tidak berpusa karena bayi. Dari sini jelas bahwa yang berkewajiban mengqodho’ adalah wanita itu sendiri dan tentu saja selama wanita itu masih hidup maka kewajiban tidak bisa dibebankan kepada orang lain.

Dijawab oleh : Abina KH. Ihya” Ulumiddin