Siapakah Penjual Agama Itu?

CAHAYA FAJAR | SIAPAKAH PENJUAL AGAMA ITU..?
oleh : AMS

Akhir zaman adalah realitas penuh fitnah dan penuh kekacauan, penyimpangan demi penyimpangan atas agama ini semakin tampak terang benderang dalam kekacauan berpikir yang berkembang di tengah-tengah manusia dengan menjadikan agama sebagai barang dagangan untuk menarik simpati manusia demi kepentingan sedikit kenikmatan dunia. Allah swt mengingatkan :

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)
Allah juga berfirman,

فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa:
معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dalam pembahasan ini maka penjual agama tentu terkait dengan seseorang yang mengerti dan memahami agama namun dia menjualnya untuk kepentingan dunia. Dialah para ulama. Dalam terminologi Rasulullah, terdapat 2 jenis karakteristik ulama, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah ra Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyatakan,

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

“Siapa yang mempelajari satu cabang ilmu yang seharusnya untuk mencari ridha Allah, tetapi dia gunakan untuk meraup kenikmatan duniawi maka dia tidak akan merasakan bau surga di hari Kiamat.” (HR.  An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Dalam riwayat yang lain, suatu ketika Nabi bersabda seraya menjelaskan fenomena realitas manusia di akhir zaman.

ﺑَﺎﺩِﺭُﻭﺍ ﺑِﺎﻷَﻋْﻤَﺎﻝِ ﻓِﺘَﻨًﺎ ﻛَﻘِﻄَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺍﻟْﻤُﻈْﻠِﻢِ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﻤْﺴِﻰ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻳُﻤْﺴِﻰ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ ﻳَﺒِﻴﻊُ ﺩِﻳﻨَﻪُ ﺑِﻌَﺮَﺽٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118)

Hadist diatas menjelaskan bahwa diakhir zaman akan muncul para ulama yang menjual agamanya dengan sedikit kenikmatan dunia. Inilah yang disebut dengan ulama dunia, atau ulama suu’. Ciri ulama su’ adalah sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. menuturkan sebuah hadis:

ﻭَﻳْﻞٌ ِﻷُﻣَّﺘِﻲْ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻳَِﺘَّﺨِﺬُﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓً ﻳَﺒِﻴْﻌُﻮْﻧَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀِ ﺯَﻣَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺭِﺑْﺤﺎً ِﻟﻸَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻻَ ﺃَﺭْﺑَﺢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗَﻬُﻢْ

Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim)

Al-allamah al-Minawi dalam Faydh al-Qadir Syarah Jami’ Shogir dari Imam Syuyuthi , mengatakan:
“Bencana bagi umatku (datang) dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” ( Faydh al-Qadîr , VI/369.)

Kesimpulannya bahwa penjual agama adalah ulama yang menjual dirinya dan agamanya kepada penguasa yang dhalim dan mengamini setiap kedhalimannya dengan tujuan untuk meraup kenikmatan dunia bagi dirinya sendiri dengan menanggalkan kemurnian agama dan keikhlasan amal.

Semoga Allah swt melindungi diri kita dari perilaku rendah menjual agama untuk dunia. Dan menyelamatkan kita dari buruknya fitnah akhir zaman. Semoga selalu terbimbing di jalannya yang lurus. Aamiiiin…

————————————————–
Disarikan dari buku-buku berjudul : Hati Nurani Series Karya AMS

Klik : www.insandinami.com