Dunia Anak

CAHAYA FAJAR | DUNIA ANAK
oleh | AMS

Untuk mengetahui kefitrahan yang sesungguhnya, lihatlah dunia anak-anak ‼. Mereka adalah jiwa bersih yang masih belum punya dosa. Kecenderungan dirinya pada kebaikan yang bisa dijadikan pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir dan ingin menjadikan dirinya lebih baik lagi.

Apakah fitrah itu ?. Fitrah adalah kecenderungan pada kebaikan, al muyuul ilal khair. Setiap suara hati yang menyuarakan kebaikan dan kesediaan diri kita untuk mengikutinya maka itulah ketundukan diri atas fitrah.

Apa saja dari perilaku anak-anak yang patut untuk kita jejaki ?
1. Tidak ada kebohongan, polos dan jujur apa adanya. Mereka selalu bahagia dengan kebahagiaan yang sejujurnya tanpa polesan maupun pencitraan. Kalaupun sedih maka kesedihannya itupun kesedihan yang jujur.
2. Tidak punya rasa capek, merasa selalu bersemangat saat bermain. Semangat yang dibangun atas rasa bahagia inilah yang menjadikan setiap anak selalu ingin bergerak dan berekspresi.
3. Persahabatan mereka tulus dibangun tidak atas kepentingan namun sebab mereka memang ingin bersahabat. Mereka tidak berhitung untung rugi dalam menjalin interaksi.
4. Bersedia tunduk patuh dan taat atas perintah. Sekalipun mereka menolak, itu tidaklah dari hati mereka karena sejatinya anak-anak adalah jiwa yang bersih yang bersedia tunduk pada kebaikan dan kebenaran.
5. Rasa ingin tahu yang besar atas segala sesuatu yang baru. Inilah awal mula pembangunan intelektualitas dan ilmu pengetahuan. setiap pikiran yang baru dikritisinya dengan beragam pertanyaan untuk tahu akan sesuatu.
6. Kesediaan bertindak supportif saat bermain bersama. Anak-anak rela menunggu dan patuh atas kesepakatan yang telah setujui bersama bahkan mereka sering kali saling mengingatkan disaat ada yang berlaku curang dan mereka bersedia meminta maaf dan berani merubah dari dari kecurangan.

Kiranya kita patut malu pada anak-anak karena jiwa mereka yang bersih dan penuh ketulusan. Ketulusan inilah yang mengokohkan hubungan antar sesama. Sebab rusaknya hubungan dan persahabatan seringkali karena kurangnya ketulusan dalam interaksi sehingga muncul pengkhianatan.

Dewasa itu adalah manakala kita mampu belajar dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa apapun yang dilakukan siapapun dan mengambil hikmah dari setiap realitas yang terjadi. Inilah manusia cerdas spiritual. Berdirilah di balik peristiwa dan ambillah pesan dari padanya untuk dijadikan bekal masa depan terbaik.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas (alkayyis) adalah orang yang menghitung-hitung dirinya(ketika hendak beramal dg standart syariat) dan beramal untuk setelah kematian(akherat), sebaliknya orang yang lemah(bodoh) adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dsb)

Semoga Allah swt menjadikan diri kita pribadi al kayyis, pribadi yang cerdas spiritual, jiwa kokoh yang menjulang ke tangga ilahi. Semoga kita bisa meniru ketulusan jiwa fitrah anak. Semoga membersihkan kita dari segala dosa. Aamiiin

————————————————–
Disarikan dari buku-buku berjudul : Hati Nurani Series Karya AMS