Berpolitik-lah Di Warung Kopi

CAHAYA FAJAR | BERPOLITIK-LAH DI WARUNG KOPI
oleh AMS

Dalam perkembangan terakhir tampak dibanyak masjid spanduk bertuliskan “jangan jadikan masjid tempat berpolitik”. Saya katakan, ini logika yang SALAH ‼.

Mereka gagal paham tentang peran masjid dengan mereduksi nya menjadi hanya sebatas tempat ibadah mahdhoh yaitu ibadah khusus berupa salat dan dzikir.

Dalam pandangan ini menganggap bahwa masjid terlalu suci untuk dijadikan tempat orang-orang kaum muslimin melakukan berbagai “kegiatan politik”, penyadaran politik, pengembangan ekonomi dan pemberdayaan keumatan.

Sementara dalam sejarah dan realitasnya, masjid telah menjadi pusat pertemuan-pertemuan umat, tempat berbagai publikasi aktivitas masyarakat, pusat pembelajaran, yang disana umat belajar tentang bagaimana peran dan tugas kaum Muslim di dalam menjalani seluruh aspek kehidupan.

Coba kita perhatikan apa yang dilakukan oleh Rasulullah pada saat pertama kali datang ke Madinah kala hijrah. Rasulullah langsung membangun masjid yang tujuannya tidak hanya sebagai tempat ritual ibadah namun sekaligus sebagai tempat pertemuan untuk memperbincangkan, mendiskusikan berbagai persoalan keumatan termasuk di dalamnya menyusun strategi perang bahkan menyusun proses kesepakatan bersama antara pihak kaum muslimin dengan non muslim yang terangkum di dalam Piagam Madinah.

Deklarasi Piagam Madinah sesungguhnya adalah konsepsi politik kaum muslimin dalam hubungannya dengan interaksi dengan non muslim. Artinya masjid pada masa Rasulullah tidaklah hanya sekedar tempat ritual belaka namun sekaligus tempat untuk melakukan proses penyadaran politik dan menyusun strategi strategi politik.

Proses penyadaran politik dilakukan melalui pembinaan keumatan berupa pembelajaran dan taklim atu pengajian-pengajian yang menjelaskan tentang konsepsi-konsepsi Islam dalam hubungannya mengatur berbagai persoalan kehidupan baik itu bidang sosial kemasyarakatan, politik, pengembangan ekonomi umat ataupun seni budaya.

Adalah suatu pandangan yang keliru di saat ada sekelompok orang yang melarang bahkan mengkampanyekan cara berpikir yang mengatakan bahwa “masjid bukan tempat berpolitik” mungkin sekilas pendapat ini ‘mungkin’ ada benarnya, jika yang dimaksud adalah manakala masjid dijadikan sebagai tempat untuk tempat kampanye kepentingan politik sesaat.

Namun manakala yang dilakukan adalah proses penyadaran umat atas hak-hak politiknya, atas tanggung jawab umat terhadap berbagai persoalan kehidupan dan kebangsaan yang merupakan konsekuensi dari pada keimanan dan syariah, maka tentu masjid menjadi tempat yang tepat untuk melakukan proses penyadaran itu.

Slogan provokatif yang menyatakan bahwa masjid terlarang dijadikan tempat berpolitik adalah memiliki kelemahan dan kerancuan logika, konyol fallacy dan absurd, baik dari aspek historis ataupun konseptual Islam.

Cara berfikir yang melarang aktivitas politik di masjid terkesan sarat dengan aroma pemikiran liberal yang mencoba memisahkan antara kehidupan beragama dan kehidupan politik, fashluddin ‘anil hayah. Mereka memandang bahwa gereja haruslah terpisah dari kehidupan politik. Hal ini disebabkan trauma sejarah yang dialami masyarakat barat terhadap dogmatisme agama yang irasional dan berkelindan dengan politik kekuasaan pada saat itu.

Tentu hal ini sangatlah berbeda dengan konsepsi Islam yang sejak awal telah memahami perpaduan antara agama dan kehidupan, Mizaajul maddah bir ruuh, mengawinkan antara kehidupan dan nilai-nilai spiritualitas agama, yang kemudian dalam prakteknya mampu menunjukkan perpaduan yang indah sehingga melahirkan kesejahteraan, ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat.

Karena Islam adalah agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan manusia janganlah nilai komprehensif, kesempurnaan dan universalitas Islam direduksi oleh sebab ketidakpahaman atas agama ini atau terlebih lagi oleh kepentingan rezim yang apriori, curiga dan phobia terhadap Islam.

Karena itu berhentilah mengkampanyekan larangan masjid sebagai tempat untuk berpolitik. Menurut saya, Ayo berpolitiklah di masjid dari pada di warung kopi, in syaa Allah lebih berkah ‼

Semoga Allah selalu membimbing kita di jalannya yang lurus dan meridhoi setiap langkah usaha dakwah yang kita lakukan. Aamiin……

————————————————–
Disarikan dari buku-buku berjudul : Hati Nurani Series Karya AMS

Kunjungi website kami www.insandinami.com