Zombie Kehidupan

CAHAYA FAJAR | ZOMBIE KEHIDUPAN
oleh | AMS

Ilmu itu ibarat air yang mengalir menuju tempat yang lebih rendah dan musuhnya adalah tempat yang tinggi. Disaat seseorang semakin mampu merendahkan dirinya dengan menampilkan sikap ketawadhu’an dan khidmad pada guru, teman dan orang lain maka aliran air akan semakin lancar dan mampu mewadahi banyak air yang ada. Karena akhlaq ketawadhuan dan khidmad adalah kesediaan diri untuk ndhlosor, merendah dalam posisi memberikan pelayanan pada orang lain.

Sementara kesombongan dan ketinggian hati akan menghentikan aliran air itu. Musuh keberkahan ilmu adalah sikap sombong. Bagaimana mana mungkin seseorang akan membanggakan diri dengan sebab ilmu yang dimilikinya, sementara ilmunya itu diperoleh karena sebab diberi oleh Allah swt. Allah-lah yang memberi ilmu pada setiap hambaNya.

Bagaimana mungkin seseorang berani membanggakan diri atas pemberian orang lain. Karenanya semakin kita meninggikan diri di hadapan manusia maka semakin rendahlah derajat diri kita di sisi Allah swt dan ditengah-tengah pergaulan manusia berilmu. Sebuah ungkapan bahasa arab sebagaimana di tulis oleh syeikh az zarnuji dalam kitab ta’limul muta’allim menyatakan

كم من عبد يقوم مقام حر وكم من حر يقوم مقام عبد

“Berapa banyak seorang hamba sahaya dapat berada pada maqam orang merdeka, sementara berapa banyak pula seorang yang merdeka dapat berada pada maqam seorang hamba sahaya”.

Seorang yang bersedia rendah hati maka dia akan memperoleh ketinggian derajat. Sementara seorang yang tinggi hati (sombong) maka dia akan terjungkal ke lembah kenistaan yang rendah.

Khidmad adalah cara untuk meninggikan kemuliaan derajat seseorang. Karena saat orang bersedia berkhidmad maka sejatinya dia sedang membuka pintu keberkahan dengan merendahkan hati di hadapan orang lain, membuatnya senang dan bahagia, maka pada saat itulah seseorang tentu akan ringan tangan memberi dan membantunya atas setiap permasalah hidup yang dialaminya.

Seseorang yang cerdas (al haliiim) tentu akan lebih memilih berkhidmad dari pada sekedar mendapatkan ilmu, karena berkhidmad pada sesama atau orang lain khususnya pada guru sebenarnya dia sedang menyiapkan tempat bagi aliran ilmu yang akan diberikan oleh seorang guru dengan penuh senang dan ridho (kerelaan memberi dan mewarisi ilmu).

Memuliakan guru dan melayaninya adalah cara yang efektif untuk mendapatkan banyak ilmu beserta keberkahannya. Pada keberkahan inilah ilmu akan menjadi lebih bermanfaat bagi sesamanya. Perhatikan seorang santri yang berkhidmad selama bermulazamah (membersamai) pada seorang guru akan menjadi lebih bermanfaat ilmunya di tengah masyarakat dari pada hanya sekedar tekun saat menuntut ilmu.

Sayangnya, realitas konsep ini tidaklah ditemukan di dunia pendidikan formal modern yang lebih mengandalkan rasionalitas dalam pola relasi menuntut ilmu. Sehingga ilmu lahir tanpa keberkahan, banyak manusia pandai tapi tidak berakhlaq. Ibarat tubuh kekar namun tanpa ruh. Inilah akhir kematian ilmu, Ilmu tanpa akhlaq dan adab hanya akan melahirkan manusia yang tak beradab, zombie-zombie kehidupan yang menakutkan dan membahayakan kelangsungan kemanusiaan.

Semoga Allah swt memganugerahkan pada diri kita akhlaq mulia yang menyertai setiap ilmu yang kita miliki, sehingga diri ini bersedia tunduk pada sumber wahyu dan tidak melecehkannya. Semoga Allah swt memuliakan diri kita dengan mahkota akhlaq dan adab dalam setiap interaksi kehidupan ini. Semoga Allah swt membimbing dan meridhoi kita. Aamiin….


Disarikan dari buku-buku berjudul : Hati Nurani Series Karya AMS

Kunjungi website kami www.insandinami.com