Sejenak Pagi #316 |  Ihsan

Sejenak Pagi #316 |  Ihsan

SIKAP ihsan atau berbuat baik dalam segala hal kehidupan sehari-hari adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Tidak hanya dalam amar makruf untuk taat pada perintah Alloh Ta’ala tapi juga dalam nahi mungkar untuk mencegah perbuatan maksiat dan dosa.

Islam untuk prinsip-prinsip ketaatan, iman untuk pilar tauhid, dan ihsan sebagai kualitas dari keduanya. Islam tanpa ihsan adalah kering, iman tanpa ihsan juga gersang, demikian juga ihsan tanpa keduanya adalah kosong. Sehingga sebagian ulama menempatkan ihsan sebagai intisari tasawuf Islam.

Perilaku Ihsan seorang muslim ini begitu penting, maka jangan pernah menyepelekannya. Dalam Alquran Alloh Ta’ala menyebutkan kata-kata Ihsan ini hingga 194 kali. Aktualisasi Islam dengan ihsan, dan mengubah segala sesuatu seperti mengajak orang berbuat taat dan mencegah kemaksiatan juga harus dengan ihsan.

Derajat ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba Alloh Ta’ala. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Alloh Ta’ala yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya.

Tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba Alloh Ta’ala yang sholeh. Sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud, berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin.

Baca Juga : Sejenak Pagi #315 | Ada Yang Lebih

Dalam Surat Al-Isra’ ayat 7 juga dijelaskan tentang keutamaan sikap ihsan ini yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”

Ketika ada orang atau teman di sekitar kita yang kita lihat tidak mengerjakan shalat, jangan benci mereka, tapi ajak dengan cara-cara baik yang tidak menyakiti perasaannyaan atau juga misalnya ketika suara azan terdengar tapi kita lihat masih banyak yang duduk tenang saja di warung-warung kopi, ajak mereka agar ke masjid juga dengan cara-cara baik yang membuat tersentuh sehingga mau ikut ke masjid.

Begitu juga halnya ketika kita melihat ada masyarakat kita yang larut dalam kemaksiatan seperti mabuk atau berjudi, jangan benci mereka, tapi cari cara agar bagaimana mengajak dan mengajarkan agama dengan cara terbaik sehingga kemaksiatan seperti itu agar ditinggalkan dengan kemauannya sendiri.

Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kpd Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin