Al Furqan, Ketangguhan dalam Krisis Identitas

Al Furqan, Ketangguhan dalam Krisis Identitas

QS al Anfaal:29

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” Al Furqan

 Analisa Bahasa

Furqan : Banyak ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah jalan keluar di dunia dan akhirat. Ibnu Abbas ra menafsirkan ia adalah keselamatan atau kemenangan. Ibnu Ishaq menafsrikannya sebagai pemisah antara haq dan bathil. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

[Tafsiran Ibnu Ishaq lebih umum dan mencakup semua tafsiran sebab orang yang bertaqwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya akan mendapatkan Taufiq sehingga bisa mengetahui yang haq dari yang bathil di mana hal ini menjadi sebab kemenangan, keselamatan dan jalan keluar…]

Analisa Ayat

Dunia adalah tempat fitnah (ujian). Manusia menjalani hidup dari satu lingkaran fitnah menuju lingkaran fitnah yang lain. Tidak ada seorangpun bisa melepaskan diri dari sergapan fitnah kehidupan dunia. Dari kesenangan menuju pada sesuatu yang  tidak menyenangkan dan dari kesusahan beralih kepada hal yang menggembirakan. Begitu seterusnya selama manusia menjalani kehidupan ini sebagaimana dikehendaki Allah:

…وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً…

“…dan Kami selalu menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian)[1]

Baca Juga : Da’i Batu Asah

Jadi musibah dunia adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa saja termasuk para nabi dan para utusan alaihimussalaam khususnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bahkan disebutkan bahwa manusia yang paling berat ujian dunianya adalah para nabi, orang yang serupa dan orang yang serupa. Kendati demikian fitnah dunia dimulai dari yang besar dan berangsur-angsur mengecil. Ingatlah firman Allah, “Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudian”[2]. Ini berbeda dengan ftinah agama yang pada awalnya kecil tetapi terus bergerak mengembang sehingga menjadi besar. Semakin lama semakin besar laksana malam hari yang terus merambat dari gelap waktu maghrib, waktu Isya’ hingga waktu setelah tengah malam. Inilah hikmah dari do’a Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

…وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْـبَتَنَا فِى دِيْنِنَا …

…dan jangan jadikan musibah kami dalam agama kami…”[3]

Baca Juga : Da’i Batu Asah

Dalam kondisi seperti ini, manusia beriman mutlak memerlukan secercah cahaya untuknya membedakan warna di waktu malam gulita. Manusia beriman tidak hanya cukup bersandar kepada kemampuan diri sendiri dalam memilah kebaikan di antara sekian banyak keburukan. Ini karena pada masa seperti sekarang ini kebaikan dan keburukan tampil dalam performa yang nyaris sama dan bahkan keburukan justru tampil dalam rupa yang lebih menggoda. Manusia beriman perlu mendapatkan al Furqan, cahaya dan bimbingan dari langit, cahaya dan bimbingan Allah azza wajalla. Cahaya dan bimbingan ini merupakan garansi yang diberikan oleh Allah kepada para hamba yang bertaqwa sebagaimana ditegaskan ayat di atas dan juga firman Allah azza wajalla:

يًا أًيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا الله َوَآمِنُوْا بِرَسُوْلِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[4]

Dengan al Furqan seseorang akan mampu melangkah ke arah yang benar saat berada di persimpangan jalan. Al Furqan juga memancarkan ketegasan dan ketangguhan pada seseorang dalam memegang prinsip dan mempertahankan identitas sehingga tidak berbuat latah meski harus berhadapan dengan tekanan begitu dahsyat yang datang dari semua pihak. Al Furqan inilah yang menampak dengan jelas pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menerima tawaran dari orang-orang kafir bagaimana jika kamu menyembah tuhan kami selama setahun dan kami menyembah tuhanmu selama setahun. Bahkan ketika orang-orang kafir itu menawarkan harta benda, kedudukan dan wanita dengan catatan Beliau menghentikan dakwah maka Beliau dengan sangat mantap menjawab:

Baca Juga : Da’i Batu Asah

وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِى يَمِيْنِيْ وَالْقَمَرَ فِى يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّي يُظْهِرَهُ الله ُأَوْ أَهْلِكَ فِيْهِ مَا تَرَكْتُهُ

Demi Allah, andai mereka meletakkan matahari di sisi kananku dan rembulan di sisi kiriku agar aku meninggalkan urusan ini  sampai Allah memenangkannya atau aku harus mati karenanya, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkannya”[5]

Al Furqan, seperti artinya (pembeda), akan memberikan stimulan sangat kuat bagi manusia beriman sehingga muncul keinginan dan tekad bulat untuk bisa berbeda dengan kaum kafir dalam segala hal. Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat berharap agar kiblat kaum muslimin tidak sama dengan Yahudi sehingga akhirnya turunlah wahyu supaya kaum muslimin beralih menghadap masjidil haram. Beliau juga  memberikan perintah kepada kaum muslimin agar berpuasa pada tanggal sembilan  (Tasu’a) dan sepuluh Muharram agar berbeda dengan yahudi yang berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram (Asyura’). Ketika menentukan pemberitahuan  masuknya waktu shalat dan panggilan berjamaah ada beberapa usulan masuk; ada yang mengusulkan menggunakan api, ada yang usul dengan genderang dan ada pula yang usul dengan lonceng. usulan-usulan ini tidak disepakati oleh forum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat karena api menyerupai kaum majusi, genderang menyerupai yahudi dan lonceng menyerupai nashrani. Al Furqan

Baca Juga : Da’i Batu Asah

Al Furqan, inilah yang juga menampak dalam pribadi-pribadi para ulama masa lalu bangsa ini. Di era penjajahan para ulama menelorkan hukum haram memakai celana dan segala yang berbau penjajah barat karena dengan memakai celana berarti sama dengan mereka. Dalam ranah politik pun demikian, umat Islam Indonesia masa lalu masih mampu menampilkan identitas dengan memunculkan partai yang berlandaskan Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) dan secara tegas dan terang-terangan bertolak belakang dan berlawanan dengan parta Nasakom (nasionalis, sekuler dan komunis), sebuah ideologi gubahan sang proklamator Bapak Ir.Sukarno.

Di Era Orba, Nasakom memang tinggal sejarah, tetapi Ideologinya masih tetap diusung oleh para pewarisnya; yaitu partai-partai nasionalis dan di sinilah mulai terjadi pergeseran di mana sebagian besar umat Islam justru berafiliasi ke dalam partai-partai tersebut. Bahkan sebagian ulamanya dengan berani mengadakan ritual do’a bersama atas nama kerukunan antar umat beragama. Al Furqan, idealitas dan identitas manusia beriman dalam kondisi tertentu memang dipaksa harus ditanggalkan oleh kekuatan setan dalam wujud manusia. Betapapun pada kala itu masih tersisa satu partai Islam, akan tetapi  tangan besi penguasa memaksa semua partai menggunakan azas tunggal. Bahkan ormas Islam terbesar ketika itu juga menanggalkan identitas Islam dan menggantinya dengan azas tunggal.

Pada era reformasi, sistem multi partai semakin menjadikan sinar al Furqan dalam diri manusia beriman bias. Dari kalangan elit sampai wong alit semuanya mulai menjauh dari identitas islamnya. Jika di era orde lama dan orde baru tidak pernah ditemukan kenangan presiden yang nota benenya beragama Islam hadir dalam perayaan hari raya umat lain maka di ere reformasi kita mendapatkan seorang presiden hadir di tengah perayaan natal, memberikan sambutan sekaligus mendorong agar natal juga dirayakan oleh umat Islam. Di era multi partai demikian pula halnya, presiden yang diformalitaskan sebagai seorang religius ternyata hadir dan ikut bersama dalam perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Baca Juga : Da’i Batu Asah

Era multi partai, juga membiaskan sinar  Furqan dalam diri mayoritas pemilih islam. Partai-partai dengan platform islam ternyata kurang diminati dengan berbagai macam alasan. Akibatnya partai Islam menjadi partai gurem yang jika tidak ingin kehilangan kekuasaan mereka terpaksa harus berkoalisi dengan partai-partai lain yang secara prinsip dan platform memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Dalam koalisi ini tidak lagi dibicarakan ideologi partai sama sekali. Kepentingan kekuasaan di tempatkan begitu tinggi sehingga mengorbankan prinsip-prinsip yang selama ini selalu didendangkan dalam segala kesempatan. Sangat lucu ketika partai berazaskan Islam dengan alasan kekuasaan harus bergandeng tangan dengan partai kafir hanya demi bersaing dengan sesama partai islam. Dalam kondisi seperti ini di manakah ciri khas manusia beriman yang disebut oleh Alqur’an sebagai saling mengasihi di antara sesama mereka dan bertindak tegas dengan umat selain mereka?

Keberadaan Furqan sebagai pahala bagi orang yang bertaqwa sewaktu di dunia di satu sisi juga bisa difahami bahwa manusia yang enggan berjuang mempertahankan identitas, ideologi dan prinsip agamanya adalah manusia yang jauh dari standar ketaqwaan.   Al Furqan

=والله يتولي الجميع برعايته=

 

 

[1] QS al Anbiya:35

[2] QS As Syarh:5-6

[3] HR Turmudzi no 3502 Kitab ad Da’awaat dari Ibnu Umar ra. Lihat Tuhfatudz Dzakirin no 612

[4] QS al Hadid: 28

[5] Lihat Sirah Ibnu Hisyam Bab Munaasharatu Abi Thalib lir Rasul Saw