Sejenak Pagi #268 | Sederhanakan

Sejenak Pagi #268 | Sederhanakan

Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, namun tidak tahu harus bagaimana, karena terlalu banyak bagian diri kita yang perlu dibenahi. Sederhanakan

Mari saya sampaikan solusinya. Yaitu dengan menyederhanakan! Sebab jika sesuatu sudah tampak sederhana, pikiran kita akan mudah menerimanya.

Mungkin kita ingin menata bisnis lebih profesional, sambil berlatih sunnah-sunnah Nabi sholallohu alaihi wasallam setiap hari, dengan tidak ketinggalan membaca satu judul buku per bulan, dan aneka kemajuan yang kita inginkan dan sebenarnya memang bisa kita lakukan.

Hanya saja, entah mengapa kita berat untuk memulainya.

Maka, kini cobalah untuk membuat segudang keinginan itu menjadi sederhana.

Contohnya, cukup dengan satu baris kalimat, “Bismillah, mulai hari ini saya akan meninggalkan penundaan dan segera melakukan.”

Sederhana!

Sebab, semua hal di atas terabaikan karena kebiasaan kita yang suka menunda, sehingga waktu terbuang percuma dan kesempatan menguap sia-sia.

Setelah pesannya menjadi sederhana seperti ini, maka melakukannya pun menjadi mudah.

Inilah dia yang dilakukan Roberto Goizueta ketika menjabat sebagai CEO minuman terkenal, selama 16 tahun ia mengembangkan perusahaan itu hingga seperti sekarang, dengan sebuah kalimat sederhana yang selalu ia katakan kepada para karyawan,

“Setiap orang, dari enam miliar penduduk planet ini rata-rata mengonsumsi 1,9 liter cairan, dan hanya 0,06 liter minuman ini”. Sederhanakan

Sederhana!

Baca Juga : Sejenak Pagi #267 | Akhlakul Karimah

Karena semua hal tentang kapasitas produksi, target konsumen, dan aneka data statistik rumit lainnya terangkum dalam satu kalimat tersebut, dan mampu memantik semangat karyawan bahwa masih banyak peluang terbuka untuk meningkatkan penjualan mereka.

Prinsip menyederhanakan juga kebiasaan para ulama. Seperti ulama hadist dari kota Mekkah, Prof Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam memberi nasihat kepada murid-muridnya jika hendak melakukan suatu hal, tidak banyak peraturan. Cukup dengan bertanya kepada diri sendiri,

“Apakah perbuatan ini akan menyenangkan Rasululloh kekasihmu?”

Jika jawabannya adalah iya, maka kerjakanlah. Tetapi jika tidak, maka tinggalkanlah.

Sederhana saja.

Keep it simple!

Oleh karena itu, mari belajar menuliskan kembali dalam satu kalimat yang sederhana, apakah sejatinya yang ingin kita perbaiki saat ini?

Semoga kita bisa terus istiqomah senantiasa bertutur, berpikir dan berbuat yang baik, beribadah dengan penuh keikhlasan berharap ridho Alloh.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin. Sederhanakan