Ringkasan Ta’lim | Tarbiyah Nabawiyah

Tarbiyah Nabawiyah

Tarbiyah Nabawiyah, Berkata Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib, “Kami sedang duduk bersama Rosululloh di dalam masjid, lalu datang dan ikut bergabung bersama kami Mush’ab bin ‘Umair dengan mengenakan pakaian yang ditambal. Ketika Rosululloh melihatnya, beliau menangis mengingat bagaimana keadaannya (Mush’ab) sebelum Islam (manja dan selalu tampil necis), dan bagaimana keadaannya saat ini” –Makna Hadits–

Sebuah perubahan yang luar biasa dilakukan oleh seseorang. Membalikkan keadaan 180 derajat. Tidak lagi melihat diri, tidak lagi dunia bergantung pada hati, tidak lagi peduli pada selain Alloh dan Rosul yang ia cintai.

Bentuk pendidikan seperti apa yang diterapkan oleh Sang Baginda Nabi? Bentuk pembimbingan bagaimana yang disampaikan Nabi, hingga mampu mengupgrade sosok-sosok penting dan luar biasa di zamannya?

Sayyidina Mush’ab bin ‘Umair, dari berbangga diri menjadi sederhana dan zuhud dari dunia. Sayyidina Umar bin Khotthob, dari temperamen kasar menjadi lemah-lembut dan penuh kasih, dsb.

Terdapat beberapa hal kesimpulan para ulama terkait dengan Tarbiyah Nabawiyah ini (mengarah pada perbaikan jiwa) yang bisa kita ambil pelajaran,

  1. Dzikir

Mencoba dan Membiasakan diri selalu mengingat Alloh, selalu sambung dengan Alloh (shilah billah) untuk mengubah kondisi hati yang buruk dan ternodai menjadi penuh nur, cahaya ilahi.

Karena watak buruk dalam diri seseorang, yang disinyalir tidak bisa diperbaiki karena merupakaan bawaan diri yang mendasari dan telah menjadi kebiasaan, masih bisa dilunakkan dan diperbaiki dengan dzikir. Sebagaimana disampaikan Rosul dalam sebuah hadits,

“Dzikir, bisa menghaluskan akhlak, melembutkan tabiat (jelek), dan memperbaiki keadaan” -Makna Hadits-

  1. Al-Qur’an

“Hati yang kita miliki, bisa berkarat bagaikan karatnya besi. Dan penawar karat tersebut adalah mengingat mati dan membaca Al-Qur’an” -Makna Hadits

Sesuai dengan apa yang disebutkan Rosul akan kegiatan hati kita, yang selalu mudah terkotori dan berkarat oleh maksiat dan hal-hal buruk yang kita kerjakan. Dan tentunya butuh pembersih istimewa berupa cahaya ilahy. Lalu dari mana lagi cahaya tersebut jika bukan berasal dari firman Alloh, Ilahy Robby.

  1. Sholawat

Jika dalam sebuah hadits Rosululloh menjelaskan bahwa hati bisa kotor dan berkarat, serta penawarnya merupakan cahaya ilahy yang berasal dari Al-Qur’an, maka dalam riwayat lain Rosululloh juga menyampaikan pada kita bahwa hati juga bisa retak dan pecah.

Baca Juga : Sikap Seorang Muslim

Beliau umpamakan, hati bagaikan sebuah kaca yang bisa retak dan pecah, dan suatu hal yang bisa menambal keretakannya adalah sholawat pada Rosululloh, sholawat yang bisa menambahkan kecintaan kita pada Sang Nabi dan kecintaan beliau pada kita.

Sholawat yang pahalanya tidak pernah tertolak meski dilakukan dalam keadaan riya’ dan tidak ikhlas. Sholawat yang dicontohkan langsung oleh Alloh dan para MalaikatNya dan diperintahkan langsung pada kita semua, para umat yang selalu mencintai beliau.

  1. Sedekah

Cara keempat, yang bisa mengubah dan memperbaiki serta mengupgrade jiwa adalah sedekah. Sebagaimana disampaikan oleh Rosululloh akan keutamaannya dalam beragam riwayat hadits, bahkan difirmankan Alloh dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Balasan berlipat-lipat yang bisa didapatkan tidak hanya di akhirat, namun juga bisa dirasakan langsung di dunia.

Melembutkan hati yang keras, karena di dalamnya terdapat perjuangan diri dalam melawan nafsu dan bisikan-bisikan setan yang berusaha menghalangi (dalam penjelasan beberapa ulama, melewati 70 bisikan dan godaan setan).

Keutamaan-keutamaan luar biasa itulah yang kemudian mendorong para shohabat untuk selalu berlomba-lomba dalam bersedekah membantu dan menyenangkan saudaranya yang lain. Menanggalkan egoisme dalam diri dan mengasah kepedulian pada sesama Muslim lainnya.

Keutamaan-keutamaan itu pula yang mendorong Imam Nawawi untuk selalu bersedekah setiap hari dengan harapan, bahwa sedekah beliau tersebut bisa menjadi perantara terkabulnya doa yang selalu beliau panjatkan, mudah-mudahan beliau dijauhkan dari melihat dan mengetahui aib dari guru-guru yang beliau gali ilmu dan suluknya.

Inilah beberapa metode Tarbiyah Nabawiyah yang mampu memberikan banyak perbaikan pada jiwa-jiwa para shohabat yang mungkin sebelumnya terjebak dengan adat-adat dan tradisi jahiliyah yang buruk, tercela serta sesat.

Tarbiyah Nabawiyah , Mudah-mudahan kita bisa mengikuti dan menerapkan metode tarbiyah yang luar biasa ini, dan mengistiqomahkannya dalam perbaikan dan pengembangan jiwa putra-putri, murid-murid dan anak didik kita. Amiin…

Baca Juga : Kedudukan Buruh dan Ulama Di Mata Alloh