Pitutur | Kyai Zalim

Kyai Zalim

“Jangan pernah berlaku semena-mena dengan siapapun, padune dadi kyai mlekoto santrine, terus ngomong ‘Barokah-barokah’, itu namanya kyai zalim, kyai tanpa santri mau ngajar siapa?‘” (Abi Ihya)

Hidup secara berdampingan memang harus ada harmoni yang tercipta. Orang tua menyayangi yang lebih muda, sebaliknya yang muda menghormati kepada yang lebih tua. Ini masih dalam wilayah relasi umum tanpa terkait dengan relasi keilmuan.

Dalam kitab yang masyhur dikaji di Pesantren yang berjudul Ta’limul muta’allim, menjadi sebuah prasyarat supaya ilmu seorang santri bermanfaat baginya didunia dan akhirat adalah menghormati ilmu dan guru, bahkan sampai kepada siapa saja pihak yang masih berkaitan dengan guru tersebut.

Maka sebagai seorang santri sejati memuliakan guru melalui khidmah kepadanya adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Sebab hal ini diyakini yang mampu membawa keberkahan dan kemanfaatan kelak selepas pulang ke rumah.

“Jangan pernah berlaku semena-mena dengan siapapun, padune dadi kyai mlekoto santrine, terus ngomong ‘Barokah-barokah’, itu namanya kyai zalim, kyai tanpa santri mau ngajar siapa?‘” (Abi Ihya)

Namun, yang disayangkan adalah jika penghormatan santri kepada guru itu disikapi secara berlebihan oleh sang guru, atau orang lain yang masih dekat dengannya seperti gus dan neng. Atas nama satu hal, yakni barokah mereka malah memperlakukan dan mempekerjakan santri secara semena-mena.

Seorang gus dan neng tak jarang hanya bisa memerintah ini itu tanpa bisa dijadikan teladan dan akhirnya hanya akan melahirkan generasi penikmat yang siap menghancurkan pesantren yang dirintis ayah kakek nya puluhan tahun.

Baca Juga : Membalas Kebaikan Orang Lain

Tentu saja mengajari santri senang berkhidmah adalah hal yang mesti dilakukan. Dari mulai bersih-bersih rumah, mobil, pakaian, halaman, toilet, memasak, menyetir kan mobil, atau hal lain yang itu akan

menggerus kesombongan santri dan akan melahirkan pribadi rendah hati, dengan catatan tanpa sikap semena-mena.

Toh sebagai seorang santri pastinya kita selalu ingin memulyakan sang guru dengan apapun caranya. Paling tidak, seseorang yang telah mau susah payah berkhidmah kepada kita, kita senangkan dengan

memberinya uang atau hal lain yang mampu membuat santri itu senang dan merasa menjadi spesial, jangan cuma menjual barokah.

Ya, guru menyayangi murid, murid menghormati dan memulyakan guru. Sebab setiap kita membutuhkan orang lain, tak terkecuali guru pastinya membutuhkan murid.

Baca Juga : Pitutur – Ngewongo wong, Nyenengno Wong, Ojo Nggelakno

Wallahu a’lam.