Ngewongno Wong, Nyenengno Wong, Ojo Nggelakno

Ngewongno Wong, Nyenengno Wong, Ojo Nggelakno (Abi Ihya’)

Rasulillah mengajarkan kita untuk senantiasa “nguwongno wong”, hanya saja berkaitan dengan caranya memang tidak bisa dengan dipukul rata, ada hak yang dimiliki oleh ahlul fadli wal ilmi meskipun ia adalah seorang menantunya sendiri.

Bahwa suatu saat ada pengemis yang lewat dihadapan Sayyidatuna Aisyah lalu ia ia memberinya sepotong roti, dan ada lagi seorang lelaki memakai pakaian dan punya penampilan yang lewat dimukanya, maka ia mendudukkannya dan memberinya makan. Maka ada yang bertanya-tanya mengapa ia membedakan antara keduanya dalam hal itu. Ia berkata: “ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Posisikan orang sesuai posisinya!”

Berkaitan dengan “ nguwongno” pembantu, Rasulillah pernah bersabda: “ Ikhwanukum khowalukum”. Pembantu di rumah adalah saudaramu. Rasulillah menekankan bagaimana kalau bisa seorang pembantu bisa makan bersama dengan tuannya. Jangan sampai merendahkan hanya sebab telah dibayar. Ini bukan ajaran Islam.

Abuya adalah figur yang luar biasa dalam “ngewongno. Bagaimana beliau mencukupi seluruh kebutuhan para santri. Dari mulai pemberangkatan sampai seluruh kebutuhan selama disana ditanggung penuh oleh Abuya. Tidak tanggung-tanggung para santri rata-rata tinggal disana selama 10 tahun.

Seorang tukang sampah begitu punya jasa besar buat kita, ia memiliki jiwa khidmah yang tinggi. Bukan tentang status yang ia sandang. Sementara banyak orang cenderung lebih suka di khidmahi dari pada mengkhidmahi. Maka hanya orang-orang yang berani menepis ego yang mau dan hobi berkhidmah.

Ada makna yang terkandung dalam basmalah, bahwa disana terdapat lafazh jalalah yang justru disandingkan dengan sifat kasih sayang (Ar-Rohman dan Ar-Rohim). bukan sifat Allah semacam al Muntaqim, atau syadidul iqob. Sehingga mengisyaratkan bahwa jika seseorang ingin dekat dengan Allah maka ia harus meniru sifat Allah kasih sayang.

Banyak orang yang berhasil menjadi wali bukan karena amal ibadahnya yang luar biasa akan tetapi banyak orang di angkat menjadi wali sebab rasa kasih sayangnya.

“Termasuk dari mengagungkan Allah ta’ala adalah memulyakan orang tua muslim, seorang penghafal al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak menjauhinya, dan memulyakan pemimpin yang adil.”

Suatu saat Sayyidina Ali sedang berjalan menuju Masjid untuk shalat berjamaah, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang tua yang juga ke arah masjid, ia tak mau mendahului orang tua itu, ia pikir orang tua itu seorang muslim yang juga akan shalat di masjid. Ia berjalan pelan dan perlahan ternyata setelah sampai didepan masjid orang tua itu tidak masuk justru terus berjalan, sehingga ia tahu kalau dia bukanlah seorang muslim.

Para penghafal al-Quran memiliki hak untuk dimuliakan sebab mereka mengemban sebuah perkara yang agung. Akan tetapi bukan seorang penghafal Alqur’an yang ekstrim yang memakai al-Qur’an hanya untuk berbangga diri. Menyalahkan pihak lain yang katanya beribadah tanpa dasar dalil langsung al-Quran hadits. Juga bukan seorang yang hafal akan tetapi perilakunya jauh dari apa yang ia hafalkan. Jika direnungkan dengan sederhana, dua pihak ini bisa dimaknai sebagai kelompok wahabi yang ekstrim kanan, dan kelompok liberal yang ekstrim kiri.

Selain itu ada pula hak yang dimiliki oleh orang-orang alim (Dzul Fadl). Sehingga kita semestinya memulyakan mereka. Seperti yang disebutkan dalam surat al Mujadalah ayat 11 yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini turun sebab sebuah kejadian, suatu hari banyak sahabat yang sudah menunggu dan berdesak-desakan menghadiri majlis untuk mendapatkan tempat di depan. Selepas majlis itu penuh, ada rombongan ahli badar datang. Karena mereka adalah orang-orang mulia, maka Rasulillah ingin “ngewongno” memulyakan mereka. Rasulillah mempersilahkan mereka masuk dan duduk di depan. Rasulillah memerintah orang-orang untuk berdiri pindah dari tempat duduknya. Tapi mereka enggan sehingga pada akhirnya sampai turun ayat di atas.

Jika seseorang ingin hidupnya lancar dan lapang, maka orang itu harus pintar meng-orang-kan orang, memulyakan mereka. Orang yang melapangkan orang lain akan dilapangkan hidupnya oleh Allah.

Shabieq El Himam, Alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini melanjutkan studi ke Al-Azhar Kairo Mesir.