Kedudukan Buruh dan Ulama Di Mata Alloh

Ringkasan Ta’lim.
3 November 2015
oleh KH. M. Ihya’ Ulumiddin

“Tidaklah kalian ditolong (oleh Alloh) dan dikaruniakan rizqy, kecuali karena (adanya) orang2 lemah (diantara) kamu” -Makna Hadits-

Diciptakan manusia, dengan berstatus sosial. Yang bermakna, ia tidak bisa hidup tanpa adanya bantuan dari sesamanya. Seorang kaya, takkan pernah bisa hidup tanpa adanya orang-orang lemah yang bekerja untuknya. Oleh karena itulah, tiada alasan bagi siapapun untuk kemudian menghina atau bahkan meremehkan status dan diri mereka (org miskin, red.).

Tercatat sejarah, bahwa kaum lemah (miskin) dan orang-orang sholihlah yang banyak memberikan banyak kontribusi demi kemajuan perkembangan suatu daerah atau negara. Karena keikhlasan, ketinggian akhlak dan kedekatan mereka pada Alloh. Yang kemudian dengan hal itulah Alloh menurunkan rahmat dan memberikan pertolongan pada kita semua.

Dari itu kemudian munculah bahasan dari para ulama untuk bertawassul pada mereka. Menjadikan perantara kedekatan kita pada Alloh, bukan karena apa2, namun didasarkan pada keyakinan kita akan kedekatan mereka pada Alloh, akan keikhlasan mereka dalam beramal, karena keluhuran akhlak mereka yg ingin kita jadikan panutan, dan karena kecintaan kita pada mereka, org2 yang mencintai Alloh dengan segenap hati, jiwa dan raga.

Istiqomah, itulah yg menjadi modal awal bagi seseorang mendapatkan rahmat dari Alloh, mendapatkan anugrah kedekatan dirinya pada Alloh. Istiqomah inilah yang menjadi salah satu ciri ssorg meraih kesholihan diri. Karena itu, tak heran jika kemudian Alloh menjadikan org2 sholih yang selalu berusaha menjaga keistiqomahan amal, sebagai waliNya di bumi. WakilNya untuk menjadi perantara rahmat bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Selaras dengan sabda Rosululloh dalam sebuah hadits,

“Sesungguhnya amal yg paling dicintai oleh Alloh adalah amal yg terus-menerus (dilakukan) meski hal itu sedikit” -Makna Hadits-

Dari itulah, bisa kita yakini dan ambil kesimpulan yang terang akan derajat kewalian para shohabat, tabiin dan tabiut-tabiin yang dianugerahkan Alloh pada mereka. Umat yang disebut Alloh dalam Al-Qur’an sebagai umat terbaik. Umat teladan dalam akhlak. Umat yang diberikan anugerah kedekatan dan interaksi langsung dengan Rosululloh. Sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh,

“Sebaik2 zaman, adalah zamanku (dimana aku hidup dan diutus), kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya lagi” -Makna Hadits-

Maka tak heran jika kemudian terdapat pendapat yang mengatakan bahwa para shohabat membawa keberkahan yang besar. Sebuah negara atau daerah luas yang penduduknya mayoritas memeluk Islam, maka bisa dipastikan terdapat seorang shohabat yang pernah tinggal dan mendakwahkan Islam di daerah tersebut. Tiada lain karena kedekatan mereka dengan Rosululloh, mendapatkan pengajaran langsung dari beliau, mendapatkan banyak doa yang langsung dilantunkan lisan beliau, dan jauh lebih dari itu, mendapatkan kesempatan berinteraksi dan bertemu langsung dengan beliau.

Karena keistimewaan itulah, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany melantunkan sebuah kalam, “Sandalnya Badui yang kencing di masjid di zaman Rosul jauh lebih mulia dari saya.”

Menunjukkan akan keistimewaan tertinggi dalam pertemuan langsung shohabat dengan Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan kesempatan untuk selalu bisa mengikuti dan meniru jejak langkah mereka dalam berdakwah. Dan semoga kita bisa mencintai mereka dengan setulusnya cinta, sebab Alloh dan RosulNya juga sangat mencintai mereka. Amiin