Orang yang Cerdas

Ringkasan Ta’lim.
Sunan Turmudzi, 7 Oktober 2015.

“Al-Kayyisu (Orang yg cerdas), adalah yg mentaatkan dirinya (Daana Nafsahu) pada perintah Alloh dan RosulNya, dan mengerjakan amal untuk kehidupan setelah mati (akhirat). Sedangkan org yg lemah, adalah yg mengikuti hawa nafsunya dan berharap2 kosong pada Alloh” -Makna Hadits-

Ada beberapa hal terkait kalimat “Daana Nafsahu” dalam hadits di atas yg dijabarkan oleh para ‘ulama,
1. Ketaatan dan ketundukan pada Alloh dan RosulNya.
Memahami Islam tidak hanya sekedar maklumat (pengetahuan), namun sebagai sebuah Mafahim (pemahaman yg diikuti dgn pengamalan).
2. Selalu memperhitungkan diri (Introspeksi/Muhasabah).
Mencoba untuk memperhitungkan dirinya, menghitung2 keburukan dan kesalahan yg dilakukan. Sehingga bisa melihat akibat yg baik dari padanya.
3. Menundukkan nafsu, dan menghinakannya
Menjadi raja bagi dirinya, menjadi kholifah bagi nafsunya. Menguasai segala sesuatu, bukan dikuasai oleh salah satu dari dalam dirinya, entah itu berupa Nafsu, Syahwat, maupun setan.

Itulah penjabaran para ‘ulama terkait Al-Kayyisu (Orang yg cerdas) yg “Daana Nafsahu”.

Ada beberapa teori sangat bagus yg pernah dibahas para ‘ulama terkait dgn realisasi Al-Kayyis oleh setiap Muslim. Yg kita kenal kemudian dgn kalimat “Bit-Takrir Yahshulut-Taqrir wa bit-Taqrir Yahshulut-Tanwir” (dgn pembiasaan, menjadikan sebuah ketetapan, dan dari ketetapan menjadi sebuah pencerahan).

Kita ambil salah satu contoh saja, membiasakan sholat jamaah, yg sebagaimana kita ketahui akan banyak dan besarnya Fadhilah sholat jamaah. Sehingga dikatakan, seandainya saja tidak ada satu fadhilahpun dalam sholat jamaah kecuali “Amiin”, maka hal itu sudah mencukupi. Jika bisa kita coba menjadikanny sebuah kebiasaan/ketetapan dalam diri, maka bisa kita bayangkan, berapa banyak pencerahan, tuntunan serta rahmat Alloh yg kita dapatkan…

Dari itulah, perlu adanya bagi setiap kita, kaum Muslimin untuk mencoba menundukkan dan menghinakan nafsu kita, serta membiasakannya menjadi sebuah ketetapan dalam diri. Mencoba mengikuti teori-teori luar biasa yg telah dirumuskan para ‘ulama, dan mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari2.

Butuh proses tentunya, karena tidak ada hal luar biasa di zaman ini yg didapatkan dgn instan, tanpa adanya perjuangan.

Adapun ttg Al-‘Ajiz (Orang bodoh), yg selalu mengikuti dan mengumbar nafsunya hingga teledor dan lalai pada Alloh, namun berharap2 ksong bahwa hal itu bisa membawanya sampai pada Alloh. Inilah yg kemudian disebut oleh para ‘ulama dgn istilah “Maghruur” (Tertipu). Tertipu dgn amal dan keyakinannya yg salah.

Dalam hal ini, penggunaan kata Al-‘Ajiz yg berarti lemah oleh Rosul, merupakan sebuah tegoran lembut sebagai sebuah pengingat dan sentilan untuk perasaan mereka. Bentuk kasih sayang beliau agar umatnya bisa merasa bahwa dirinya salah, mengakui hal itu, dan bertaubat kembali pada Alloh. Karena merupakan kerugian yg sangat besar, saat ssorg merasa dirinya tidak melakukan dosa, bahkan meyakininya sebagai sebuah ibadah. Na’udzubillah… Sedang Rosul sendiri telah memberi tuntunan termudah, bahwa “Al-I’tirof Yamhul-Iqtirof” (hanya dengan pengakuan dosa saja -pada Alloh- bisa menghapus dosanya).

Resume: Ust. Rozy, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini menempuh studi di Rabithat Al-Maliki Rusaifah Mekkah Arab Saudi.