Menjadi Muslimah yang Berkarakter

Menjadi Muslimah yang Berkarakter dan mempunyai keimanan dalam andil memperjuangkan agama. Bahasan Abina KHM. Ihya’ Ulumiddin dalam  TAUSHIYAH Tasyakuran Haflah Takhrij Ma’had Nurul Haromain Lin Nisa’ ke-X.

PEREMPUAN ADALAH LADANG/SAWAH

Berkaitan dengan perempuan, Allah memberikan perhatian khusus dengan bahasa ” Hartsun ” dalam QS. Al Baqarah: 223 yang artinya, “perempuan-perempuan kalian adalah ladang bagi kalian.”

Maknanya, berkaitan dengan seseorang yang memiliki ladang atau sawah, tidaklah mereka ingin ladang atau sawahnya bobrok (tidak baik). Tentu pemiliknya selalu mengharapkan memiliki ladang yang subur.

Dalam hal ini, perempuan diibaratkan sawah/ladang, bahwa mereka merupakan wadah produksi. Anak, adalah hasil produksi sebagai generasi penerus.

Dikatakan dalam syi’ir: “Ibu adalah madrasah utama. Ketika kamu menyiapkannya, maka kamu juga menyiapkan generasi penerus yang baik-baik akhlaqnya.”

Perempuan, dalam hal ini ibu, adalah tiang dari negeri (‘ Imadul Bilad ). Ia merupakan wadah dan lahan produksi. Karena itu, Islam sangat menjaga kelestarian perempuan daripada laki-laki. Diantaranya, tidak dibolehkannya dalam peperangan membunuh wanita dan anak-anak, yang itu adalah kaum kafir. Apalagi, yang kita sendiri umat Islam?

Selain itu juga, Allah sudah menitahkan bahwa populasi perempuan akan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sampai digambarkan adanya perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 1:50.

Begitu diperhatikannya perempuan, orang tua yang memiliki anak-anak perempuan dan bisa mendidik mereka menjadi muslimat dan shalihat, akan bisa menjadi penghalang masuk neraka dan orangtuanya unggul di Surga.

Baca juga:

Termasuk menjaga kelestarian perempuan, jangan sembarangan dalam memilihkan jodoh. Carikan yang baik-baik. Dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihu Wasallam , “ketika sudah datang kepada kalian, wahai para wali dari anak (terutama anak perempuan) seorang yang jelas kamu senang akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah. Jika kalian tidak melakukannya, dan datang ujian, maka itu adalah salah kalian sendiri.”

Dibalik sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihu Wasallam ada rahasia kenapa bahasa akhlaq didahulukan dari Agama. Berbicara Agama, sudah tentu tidak ada yang tidak baik. Namun kaitannya dengan agama, adalah dengan pengamalannya. Sebagai wujud dari pengamalan, tentulah akhlaq yang baik. Sedangkan, banyak orang baik agamanya, namun tidak baik akhlaqnya.

Saat akhlaq yang didahulukan, menjadi pertanyaan bagaimana standard untuk agama?
Para ulama’ menjelaskan, bahwa standard agama dalam hal ini yakni, jangan sampai menikahkan anak perempuan kalian dengan orang yang fasiq (jauh dari ketaatan). Yakni, dalam hal fardlu (shalat, puasa, zakat, haji bila kuasa) tidak menjalankannya.

Jika akhlaq dan agamanya baik, maka itulah yang menjamin kebahagiaan dan keberkahan. Sedangkan harta atau penghasilan, sama sekali tidak menjamin.

PEREMPUAN DAN MALU

Membahas tentang perempuan, tidak lepas dari sifat “Malu.” Sedangkan iman dan sifat malu adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka, perempuan sebagai ladang yang baik, adalah perempuan yanh memiliki sifat malu. Saat malu itu hilang, maka imannya juga akan hilang.

Sifat malu, merupakan titipan Allah untuk perempuan. Jangan sampai standard malu perempuan itu dikhawatirkan. Karena itulah, untuk menjaga sifat malu perempuan, ada perintah berhijab, aturan pergaulan sampai jangan berbicara sembarangan kepada laki-laki, dll. Termasuk juga, sampai kenapa Islam memperbolehkan pernikahan dini agar perempuan tidak banyak berbuat maksiyat dan terjaga sifat malunya.

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN PESANTREN

Perempuan sebagai lahan yang diharapkan subur, dengan titipan sifat malu dari Allah yang harus dijaga, maka pendidikan pesantren lah yang paling tepat untuk perempuan. ” Maka, saat punya anak perempuan, pondokkan saja .” Apalagi melihat kemajuan jaman sekarang ( Jaman NOW ). ” Tidak ada pendidikan paling aman dan nyaman untuk perempuan seperti pesantren .” Standard untuk menjaga sifat malunya adalah di- pondok -kan.

Di dalam pesantren, memadukan metode Tarbiyah dan Ta’lim , denagn menhaj keduanya yang tak bisa terpisahkan. Selain itu, di dalamnya 24 jam ibadah, shillah billah (hubungan dengan Allah) yang teratur, dan adanya peraturan-peraturan yang dibuat tidak lain adalah untuk ibadah. Jika ada gesekan-gesekan karena adanya perbedaanpun, bisa menyatu karena adanya saling memahami, saling menasehati, saling tolong menolong. Dan jika diperlukan, adanya takzir pun, adalah proses untuk menjadi lebih baik.

Belum lagi, dalam Pesantren ada Murobby . Murobby itu memiliki sifat ASAH-ASIH-ASUH . Selain itu, adalah ada KETELADANAN . Berangkat dari Islam mengajarkan keteladanan, layaknya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihu Wasallam yang penuh keteladanan kepada para shahabat, sehingga islam bisa dilaksanakan hingga saat ini. 24 jam pengawasan tertentu oleh Murobby hanya ada di Pesantren. Belum lagi, komitmen menjalankan hidup secara islami, yang diharapkan menjadi kebiasaan tidak hanya di Pesantren, tapi juga saat di luar lingkungan pesantren.

Jadi, pada jaman NOW , pendidikan yang paling layak untuk perempuan adalah pesantren, yang merupakan miniatur islam yang dijaga 24 jam oleh Murobby dengan tradisi-tradisi islami yang mengatur untuk menjadi lebih baik dan terjaga.

AMAL YANG TIDAK TERPUTUS

Di Pesantren, tentunya semua adalah orang yang ingin menjadi baik. Maka, kecerdasan orangtua untuk memilihkan pesantren bagi anaknya, adalah mengamalkan hadits yang artinya, “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yg mendoakannya,” (HR.Muslim).

Mengapa demikian? Semua biaya yang orangtua tanggung adalah untuk pesantren dan itu berstatus “Sedekah Jariyah.” Karena, urusannya pesantren adalah dengan Allah, Rasulullah dan perjuangan Islam. Belum lagi jika anak kita masuk dalam ” Waladun shalih ” ( Walad dalam hal ini mencakup anak putra dan putri). Saat anak taat kepada Allah, Rasulullah dan Orangtua, maka ilmunya bermanfaat. Tinggal bagaimana selanjutnya kemanfaatan untuk orang lain.

Berbeda lagi saat orangtua membiayai pendidikan anak dengan tujuan tertentu (Sarjana, dll), itu adalah memang kewajiban orangtua memenuhi pendidikan anaknya. Untuk urusan bagaimana kelak anak itu menjadi shalih-shalihah adalah bagaimana dulu melihat kelanjutannya.

Karena, Ilmu sendiri ada Asasi dan Idhofi . Hakikatnya ilmu adalah:
1. Ayatun Muhkamah (Al Qur’an yang dikokohkan)
2. Sunnatun Qa~imah (Sunnah yang didirikan)
3. Faridlatun ‘Adilah (Kefardluan yang membuat orang berbuat adil)
Selaindari itu semua adalah Fadhlun , yakni pelengkap (bentuk jamak dari Fadhail ). Namun jika bentuk jamak dari fudhul justru maknanya adalah sesuatu yang kotor.

Manakala, saat orangtua bisa mengantarkan anak masuk pesantren, In Syaa Allah masuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihu Wasallam , “barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan (yang tinggi), maka akan difahamkan agamanya.”

BELAJAR HUBBAN FILLAH (Mencintai Karena Allah) DI PESANTREN

Dari pesantren, kita belajar mencintai Allah. Maka dalam hal ini, baik pondok putra maupun pondok putri memiliki kewajiban yang harus dipenuhi. Yakni, yang diharapkan adalah jangan sampai keluar pondok lalu terputus hubungan dengan Murobby atau Pesantren.

Sebab apa ?
Keselamatan yang sudah dijaga selama di Pesantren harus tetap dijaga sampai In Syaa Allah di Akhirat dan dipanggil dalam ” Al Mutahabbina Fillah” Begitu jelas ikatan Rabithah Ilmiyah yang luar biasa melebihi segala-galanya. Imam Syafi’i Rahimahullah mengatakan ” _Al ‘Ilmu Luhmatun Kaluhmatin Nasab”

Islam mengancam seseorang yang memutus hubungan nasab, dan pemutus hubungan diancam masuk neraka. Dalam hal ini ada nasab karena Muraqabah /kefamilian. Sedangkan saat di Pesantren, adanya hubungan dengan Guru dan Orang Shalih yang sudah membuat selamat dari Neraka. Maka melebihi segala hubungan dan sekedar jasa. Lalu, kenapa tidak disambung?

Maka, jangan sampai putus. Jika belum bisa bertatap muka secara langsung, maka kirim Fatihah . ” Jangan sampai menjadi santri, Sowan Ora, Ndungakno Yo Ora.”_ Jika sampai demikian, maka ” _Fal Yatabawwa’ Maq’adahu Minannar” ia menyiapkan dirinya untuk masuk neraka. Jika saja, misalkan untuk Sowan belum bisa karena terhalang biaya atau lainnya. Seaungguhnya doa adalah yang memudahkan kesulitan-kesulitan dan membuka jalan keluar.

Di jaman akhir, akan ada tiga hal langka. Dan masuk dalam tiga hal langka inilah yang justru membuat kita selamat. Tiga hal langka itu adalah:
1. Rizki yang halal ( Dirhamun Min Halal )
2. Ilmu yang bisa diambil faidah ( Ilman Mustafad ) Ilmu dengan ada yang meneladani
3. Saudara karena Allah ( Akhon Fillah)

Di Pesantren, adalah masuk dalam adanya saudara karena Allah. Bergabung inilah yang membuat senang. Masuk surga pun bersama-sama dengan bergandengan tangan. Digambarkan, masuk surga dengan bergandengan tangannya 70.000 orang, masih tidak memenuhi pintu surga.

Maka, dimanapun anda berada, tetaplah bergabung dengan Anshoriyah ini, dalam andil memperjuangkan agama.

BARAKAH DALAM PESANTREN

Saat sudah terdidik barakah di Pesantren, ” Alladzi Barakna Haulahu ..”, uYakinlah, Allah juga memberkahi orang-orang disekitarnya. Karena, barakah tidak hanya di Pesantren itu saja. Begitulah Sunnatullah menentukan.

” Maka saat menjadi pribadi yang baik, akan memberkahi sekitarnya .” Apalagi jika ia mau menyebarkan ilmu. ” Setiap Orang yang Keluar dari Pesantren, Jelas Ia Mengantongi Barakah di Sakunya. Tinggal Barakah itu Digosok atau tidak .”

Diresume oleh Ummu Aisyah