Ketakwaan Membuahkan Kemuliaan

Tafsir Tematik
oleh KHM. Ihya’ Ulumiddin

Alloh subhana wata’ala berfirman: 

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَآمَنُوْا إِنْ تَتَّقُوْا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُوْ الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Anfaal:29)

Makna dan Penjelasan Ayat

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Alloh Swt. akan menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman bakat furqaan bila mereka bertakwa kepada-Nya dengan makna takwa yang sebenarnya. Takwa yang bermakna menjaga diri dari siksa Alloh Swt., tidak mendurhakai-Nya dengan tindakan maksiat dan melaksanakan perintah-Nya. Dengan takwa seseorang akan mengendalikan dorongan emosinya dan penguasaan kecenderungan hawa nafsunya, yang berarti ia memenuhi dorongan-dorongan itu dalam batas yang diperkenankan oleh ajaran agama. Selain itu terkandung perintah kepada manusia agar ia melakukan tindakan yang baik, berlaku benar, adil, memegang amanat, dapat dipercaya, dapat menyesuaikan diri dan bergaul dengan orang lain, dan menghindari permusuhan serta berlaku aniaya.

Furqaan adalah bakat perwatakan manusia yang dengannya ia dapat mengetahui dan membedakan antara hak dan batil, memilah antara petunjuk dan kesesatan, serta yang manfaat dan yang mudlarat. Dengannya pula ia dapat menghapuskan noda-noda dosa dari jiwa, membersihkannya, dan menjaga jiwa agar tidak kembali terkotori olehnya. Alloh Swt. dengan sifat Maha Pengasih dan Penyayang telah menganugerahkan nikmat tersebut kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Karunia tersebut diberikan sebagai fadlol dan ihsan dari Alloh Swt. tanpa perantara dan perwakilan oleh siapapun. Itulah cahaya ilmu pengetahuan yang setiap pencarinya tidak akan menemukan kecuali dengan takwa. Itulah hikmah yang telah disebutkan-Nya dalam Al-Qur’an.

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُو الأَلْبَابِ

Dan barangsiapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh).” (QS. Al Baqarah:169)  

Dari ketakwaan itu kemudian berbuahlah bakat perwatakan furqaan yang pemiliknya dapat membedakan sesuatu dengan sumber kesadaran ilmu, hikmah, dan amal perbuatannya. Hidup orang yang bertakwa diberkahi dengan kemuliaan, dan kemuliaan hasil dari ketakwaan.

Pengertian Kemuliaan

Kemuliaan yang dalam bahasa Arab disebut dengan al ‘izzah bermakna al syarof wa al man’ah (kemuliaan dan kekuatan). Kemuliaan merupakan hasil dari sebuah proses yang bertahap dan berkesinambungan. Demikian halnya dengan ‘izzu al Islam wa al muslimin (kemuliaan dan kekuatan Islam dan kaum muslimin) bukanlah suatu hal yang mudah diraih. Semudah orang mengatakannya, semudah orang membolak-balikkan lidah dan nama itu sudah terucapkan. Namun ‘izzu al Islam wa al muslimin sebagai kata kerja merupakan proses panjang dan berkesinambungan yang memerlukan banyak tahapan dan kesepakatan. Alloh Swt. telah berfirman,“Padahal kekuatan itu hanya bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al Munaafiquun:8)

Dari pengertian ini kita hendaknya sepakat, menyatukan persepsi, yang semula mungkin tidak seluruhnya sama, tentang apa dan bagaimana ‘izzu al Islam wa al muslimin. Bahwa kemuliaan dan kekuatan itu hanyalah bagi Alloh Swt., bagi Rosululloh saw. dan kaum muslimin. Maka kembalikanlah makna kemuliaan dan kekuatan itu juga pada ajaran Alloh Swt. yang disampaikan melalui Rosu-Nya dan menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh kaum muslimin.

Manhaj Individu dan Masyarakat

Langkah awal kenabian adalah dakwah yang menyentuh manhaj (metode) pembinaan individu. Dimana baginda Nabi saw. memulai mendakwahkan ajarannya kepada istri, keponakan, sahabat karib, dan kemudian kepada beberapa sanak keluarga serta sahabat beliau yang lain. Ketika setiap individu dengan kelengkapan hidup yang meliputi raga, ras, rasio dan rukun tersebut mulai bergerak ke satu titik, membentuk pola pikir dan prilaku yang sama sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (tawhid al fikroh), Maka rukun atau hidup sosial yang dilakukan dengan sesama individu secara harmonis, damai dan saling melengkapi (al shuhbah) itupun berjalan sebagai fungsi perangkat (al tathbiq) yang dapat mempengaruhi individu lain untuk membentuk suatu kelompok sosial dengan harapan dan tujuan (al hadf) yang telah menyesuaikan diri dalam norma dan tata nilai kelompok tersebut (tatsqif al jama’ah). Disinilah kemudian terbangunnya masyarakat Islam yang memiliki kemuliaan dan kekuatan mempesona.     

Prinsip-prinsip ajaran yang dibawa oleh Rosululloh saw. tak lepas dari tiga hal sebagaimana telah dijelaskan Al Qur’an,“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus diantara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatanag Rosul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imron : 164)

Abdulloh bin ‘Abbas ra., bercerita, ketika suatu hari ia berada di belakang Nabi saw. bersama para sahabat yang lain, beliau bersabda, “Wahai anak muda, aku hendak mengajarimu beberapa kata; jagalah Alloh, makaDia akan menjagamu; jagalah Alloh, maka kamu akan menjumpai-Nya memberi jalan terang padamu; jika ingin meminta (sesuatu), mintalah kepada Alloh; dan jika ingin memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh…” (HR. Tirmidzi)

Kata demi kata, pelan dan mantap disampaikan oleh Nabi saw. sebagai nasihat. Bila kita mengikatnya menjadi suatu keyakinan, pengertian, dan kesadaran diri, maka ini akan menjadi aqidah yang kokoh tersimpan di balik dada seorang muslim.

Ketika aqidah dijalani dengan baik, teratur, sebagaimana sabda Nabi saw., “ihfadhilllaha yahfadhka,” (jagalah Alloh, maka Dia akan menjagamu), menjaga segala perintah Alloh, larangan-Nya, dan batasan-batasan serta setiap hak-Nya. Maka sebenarnya kita telah melaksanakan syariat-Nya.

Menjaga segala perintah artinya melaksanakan segala perintah Alloh dan Rosul-Nya, seperti sholat yang lima waktu, puasa di bulan Romadlon, membayar zakat, berhaji ke baitulloh, dan lain sebagainya. Menjaga segala larangan artinya menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya, seperti kufur, membunuh, berzina, mencuri, berjudi, dan seterusnya. Siapa yang mampu menjalaninya dengan penuh keyakinan dan kesungguhan, maka Alloh Swt. membanggakan dan memuji, serta menempatkannya sebagai golongan awwabin(orang-orang yang selalu kembali kepada Alloh) dan hafidzin (orang-orang yang selalu memelihara syariat). Dimana isinilah letak keimanan itu berada.

Dengan bahasa pendekatan tersebut, hubungan interpersonal yang terbangun dalam satu kebersamaan akan lebih berfungsi sebagai model peranan. Selanjutnya, dengan model itu setiap orang harus melakukan perannya sesuai dengan pola dasar pembinaan (mabda’ al tau’iyah) yang menjadi norma dan tata nilai bagi sebuah masyarakat idaman. Hubungan interpersonal yang dipraktekkan Nabi saw. bersama para sahabat dapat berkembang baik, karena setiap individu di masa yang penuh keteladanan itu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan dan terhindar dari konflik peranan serta kerancuan peranan. Kita tahu, begitu tepat dan bijaknya Rosululloh saw. di dalam memberi setiap pesan perintah kepada para sahabat sesuai dengan karakter individu yang dimiliki mereka. Hubungan interpersonal yang terbangun tidak bersifat statis dan kaku, tetapi selalu berubah, dinamis dan penuh kreatifitas. Dipelihara dan diperteguh dengan perubahan (al tajdid) yang memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (al ta’adul). Ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan itu. Pertama keakraban (al tawadud), kedua kontrol (al ta’awun), ketiga respons yang tepat (al talathuf), dan keempat nada emosional yang tepat (al tarahum). Dari keselarasan yang dihasilkan empat faktor tersebut, setiap konflik yang muncul akan diselesaikan dengan baik dan bijaksana, tanpa harus mengalahkan kepentingan bersama, apalagi sampai memutus rasa persaudaraan sesama muslim.

Dengan ‘aqidah yang membangun kesatuan pemikiran (tawhid al fikroh), pembinaan umatpun dimulai. Sejak awal umat telah dikenalkan kepada Alloh Swt. dan ditanamkan pula kebenaran syariat Islam sebagai satu-satunya ajaran yang layak untuk dipergunakan. Berangkat dari ‘aqidah yang menancap kuat (‘aqidah rosikhoh) inilah akan muncul kemudian pribadi-pribdai yang tangguh, yang bertingkah laku sesuai dengan akhlak Islam, dan dihiasi dengan tutur kata yang baik serta amal saleh sebagai hasil dari bentuk pembinaan tazkiyah. Kemudian dari dua pembinaan tersebut disempurnakan lagi dengan sistem pembinaan yang ketiga, yaitu tsaqofah. Pembinaan yang menambah wawasan keilmuan dalam upaya pengejewantahan Islam totalitas (kaffah) sesuai manhaj Al Kitab dan As Sunnah. Mengajarkan isi kandungannya sebagai disiplin ilmu, baik keagamaan maupun iptek, seperti tafsir, hadits, ushul fiqhi, bahasa (lughoh), ekonomi (iqtishodi), politik (siyasah) dan lain sebagainya. 

Kemuliaan dan kekuatan yang kita cita-citakan bukanlah dinilai dari sisi besarnya jumlah (kuantitas) semata, atau dari sisi kekuatan dan kestabilan ekonomi saja. Namun kemulian dan kekuatan Islam yang menjadi milik kaum muslimin itu ‘dilahirkan’ dari sekian banyak ‘keringat’ yang berbentuk ikhtiar melalui perkataan-perkataan baik dan amal saleh. Maka pendidikan yang berorientasikan pembinaan terhadap generasi-generasi berikut (takwin al rijal) dengan mengedepankan hasil terbaik (kualitas) merupakan kunci dari pintu bangunan Islam nan mulia ini. Jangan sampai kita memahaminya darimanhaj selain Al Kitab dan As Sunnah, karena kebenaran yang diperoleh darinya masih akan menjadi tanda tanya besar di balik dada kita. Alloh Swt. berfirman, “Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.” (QS. An Nisaa’:139). []