Birrul Walidain

“Termasuk dari birrul walidain: kalau punya kesusahan jangan bilang orang tua.” (Abi Ihya).

Didunia ini, yang tidak memiliki orang tua sama sekali hanya Nabi Adam. Dewi Hawa memiliki orang tua meski hanya bapak yakni Nabi Adam, Nabi Isa pun memiliki orang tua meski hanya ibu yakni Dewi Maryam. Selain Nabi Adam semua manusia dimuka bumi manapun dari awal kali manusia diciptakan sampai hancurnya alam semesta bisa dipastikan memiliki orang tua.

Orang tua adalah sosok yang paling berjasa dalam kehidupan seseorang. Seorang anak tidak akan pernah ada didunia ini sebelum mereka terlahir. Dan pada kenyataannya cara Allah melestarikan kehidupan manusia adalah melalui mereka. Tidak serta merta seseorang begitu saja ada.

Maka Islam mendudukan mereka sebagai sosok yang mesti mendapatkan penghormatan dan pemuliaan nomor satu, terlebih sosok ibu. Meskipun mereka non muslim. Memuliakannya adalah dengan kita berbuat baik kepadanya, atau dalam term yang lain disebut sebagai birrul walidain.

Birrul walidain adalah satu tindakan yang semestinya dilakukan dan diusahakan oleh seseorang yang mengaku ingin mendapatkan ridlo dari Tuhan. Karena ridlo-Nya hanya bisa diraih jika kita berhasil membuat orang tua kita ridlo.

Tentu saja birrul walidain tidak ada kaitannya dengan perbuatan dosa, artinya jika orang tua kita menyuruh satu hal yang berseberangan dengan prinsip syariat maka kita tidak boleh melakukannya atas nama birrul walidain. Selain hal itu, semua perbuatan baik yang bisa menyenangkan orang tua dan meraih ridlonya semestinya kita lakukan dan usahakan. Meskipun kedua orang tua kita berlaku zhalim dengan kita, tetap saja kita mesti berbuat baik kepada mereka, jika tidak, pintu neraka akan dibukakan untuk kita.

Termasuk bagian penting dari birrul walidain adalah, dikala kita punya kesusahan, hal yang membuat kita galau dan menangis, kita tidak perlu menyampaikan semua itu kepada orang tua. Tutup semua kesusahan yang kita rasakan ketika berada dihadapan mereka. Cukup ceritakan apa yang bisa membuat mereka bahagia. Pandangi mereka dengan wajah yang ceria, dengan pandangan yang menentramkan dan menyiratkan kasih sayang, maka kita akan mendapatkan pahala seperti menunaikan haji mabrur. Sebab jika kita menceritakan kesedihan kita, orang tua kita pasti akan kefikiran, terbebani dan ikut masuk dalam kesedihan yang kita rasakan. Sampaikan cerita bahagia dan simpan rapat-rapat cerita-cerita duka nestapa.

Tantangan terberat dalam birrul walidain adalah dikala seseorang telah beristri. Seorang istri semestinya terus mendorong suaminya agar suaminya terus berbakti kepada ibunya, bukan malah menjadi penghalang ia birrul walidain kepada sang ibu. Alqamah seorang sahabat yang rajin beribadah, tapi gara-gara ia lebih mementingkan istrinya ketimbang sang ibu, akhirnya ibunya murka dan kemudian membuatnya sempat tak bisa mengucapkan kalimat tauhid ketika sekarat.

Terkait dengan birrul walidain, bahwa surat al Baqarah adalah cerita tentang anak salih yang berbuat baik kepada orang tuanya. Seolah mengingatkan kepada kita akan urgensifnya birrul walidain. Anak salih itu adalah anak yang miskin yang setiap hari mencari kayu bakar dan hasilnya dibagi tiga, sepertiga untuk ibunya, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga untuk sedekah. Dan sebab berbaktinya kepada sang ibu pada akhirnya anak itu berhasil menjadi orang yang kaya raya, sebab menjual sapi seharga emas seberat tubuh sapi itu.

Akhir catatan, seberapa besar kebaikan yang kita perbuat kepada orang tua, sebesar itulah kelak kebaikan yang akan dilakukan anak-anak kita kepada kita. Jangan bermimpi kelak kita punya anak yang saleh dan penurut jika sebagai anak kita seringkali membangkang terhadap orang tua. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita panen.

Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini melanjutkan studi di Al-Azhar Kairo Mesir.