Ngaji Kitab “Al-Mukhtar Min Kalamil Akhyar”

Talim I’tikaf I, 19 Juni 2017 M /24 Romadlon 1438 H.

oleh | Abina KH. M. Ihya’ Ulumiddin

Dalam keseharian, kita senantiasa mencoba untuk selalu melanggengkan sebuah doa keselamatan. Semoga dijadikan bagian dari golongan orang yang diberikan nikmat kepada mereka (an’amallohu alaihim). Sebagaimana termaktub dalam bacaan surat Al-Fatihah yang kita ulang selalu dalam setiap rakaat sholat kita. Adapun penjelasan dari kalimat golongan orang yang diberikan nikmat kepada mereka Allah rinci dan perjelas dalam firman-Nya di surat An-Nisa ayat 69, yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”

Untuk itulah, dalam memulai bahasan kitab Al-Mukhtar Min Kalamil Akhyar, sang penulis yang tak lain adalah guru kita, Abuya As-Sayyid Muhammad ibn ‘Alawy Al-Maliky Al-Hasany, memilih sebuah ayat dari Al-Quran untuk mencoba membahas salah satu dari golongan orang yang diberikan nimat kepada mereka dimana telah Allah sebutkan. Ayat itu difirmankan dalam surat Al-Ahzab ayat 23, yang artinya:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu (apa yang telah Alloh janjikan) dan mereka tidak merobah (janjinya)”

Dimulainya kitab ini dengan ayat tersebut, karena adanya bahasan khusus yang menunjukkan bahwa di kalangan kaum Muslimin ada golongan dan kelompok orang yang senantiasa berjuang di jalan Allah, membela dan membantu agam-Nya. Dan golongan tersebut akan terus Allah lestarikan hingga hari kiamat kelak in sya Alloh. Ditandai dengan kalimat yang difirmankan-Nya, “Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu”. Mengindikasikan adanya regenerasi yang terus berlanjut.

Imam At-Tirmidzi berpendapat, Kesejatian mereka dinilai, karena As-Shidq (kejujuran) mereka pada Allah dan Rosul-Nya, pada orang banyak, dan pada tarbiyah dan pengajaran ajaran-ajaran Islam

Dari bahasan mereka itulah (orang-orang sholih), diharapkan kita bisa mengambil pelajaran berharga dari pengalaman hidup mereka, dan bisa menirunya untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ulama dalam hal ini,

“Ceritakan tentang orang-orang sholih dan sebut tentang (nama-nama dan biografi) mereka. Karena dengan menyebut-nyebut mereka, rahmat Alloh akan turun pada kita.”

Ada beberapa tingkatan yang dirumuskan para ulama dalam kita menghadapi orang-orang shalih dengan hati kita.

Kelas 1, Mengharap pertemuan dengan orang shalih

Dalam doanya, Nabi Yusuf masih menyebutkan,  “Ya Alloh wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, dan pertemukan aku dengan orang-orang sholih”

Kelas 2, Meniru (suluk) orang shalih

Kelas 3, Berakhlak dengan akhlak orang shalih

Kelas *, Mencintai orang shalih

Sebagaimana disampaikan Imam As-Syafii dalam sebuah kalam beliau, “Aku mencintai orang sholih, namun aku tidak termasuk dari golongan mereka.” Sebuah kalimat pendidikan yang keluar dari hati dan lisan yang penuh ketawadluan

Terdapat metode pembinaan dan bimbingan Rasulullah yang diterapkan dan beliau tempa pada pribadi kaum Muslimin di zaman beliau, para sahabat. Yang kemudian diteruskan secara estafet hingga ke masa kita sekarang ini. Adapun metode tersebut Allah rinci dalam firman-Nya di surat Ali Imran ayat 164,

  1. Aqidah yang benar dan kuat
  2. Tazkiyatun Nafs (Penyucian diri)
  3. Tsaqofah (Wawasan keilmuan yang luas)

Dilihat dari Asbab Nuzul (sebab turun) ayat Al-Ahzab ayat 23 di atas, menyatakan bahwa turunnya pada saat terjadi peperangan. Namun, pada tafsir ayat tersebut, bisa merujuk pada keadaan zaman ini. Karena salah satu dari mukjizat Al-Quran adalah selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, tidak kemudian diperbolehkan bagi siapapun untuk seenaknya menafsirkan ayat tersebut mengikuti kehendak dan pemikirannya sendiri. Karena jika hal itu terjadi, maka akan masuk pada bahasan Rosul dalam haditsnya, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Quran dengan pendapat/pemikirannya sendiri (tidak merujuk pada keterangan dan penjelasan Rasulullah, atau tidak ahli dalam penafsiran tersebut), maka bersiaplah untuk menempati kedudukannya di neraka” (Makna Hadits)

Salah satu kelebihan para orang shalih, adalah kata-kata dan kalimat-kalimat nasehat ataupun petunjuk yang berasal dari hati mereka, dan dilandasi rasa takut serta cinta pada Allah. Sehingga dengannya Allah memberikan petunjuk, taufiq dan hidayah bagi mereka yang dikehendaki-Nya. Allah jadikan mereka sebagai jembatan bagi umat. Allah jadikan mereka lampu penerang sebagai petunjuk bagi seluruh hamba-Nya. Tiada lain Allah berikan kelebihan tersebut karena keikhlasan mereka yang tinggi, dan usaha yang keras dalam menjaga batasan-batasan yang telah Allah tentukan dalam ajaran yang dibawa Rasul-Nya.

Luasnya pemikiran mereka, banyaknya solusi dan penyelesaian berbagai permasalahan umat. Berbagai macam kajian dan sumbangan keilmuan yang mereka sumbangkan. Semua itu Allah berikan sebagai balasan atas ketinggian ketakwaan yang mereka persembahkan. Dalam firman-Nya, Allah tegaskan di surat Al-Baqarah ayat 282, yang artinya:

“…dan bertakwalah kepada Alloh; Alloh mengajarmu; dan Alloh Maha mengetahui segala sesuatu”

Sebagaimana Imam As-Syafii, penggagas ilmu Ushul Fiqh. Terdapat pula seorang ulama yang meneliti tentang hewan, entah itu kodok, merpati, maupun singa. Tanpa menggunakan penelitian yang rumit dan sulit. Karena keilmuan yang mereka miliki Allah masukkan langsung ke dalam hati. Hal inilah yang disebut para ulama dengan istilah waridat. Inspirasi yang muncul dari arah yang tanpa disangka-sangka. Para ulama menyebutkan tanggapan hal tersebut dengan sebuah ungkapan,

“Waridat (inspirasi/ide) datang dari sebab wirid (sebab kedekatan dan hubungan kita pada Allah)”

Karena itu, tidaklah mengherankan jika kemudian para ahli pendidikan dan ahli ilmu mencatat dan mengabadikan segala ungkapan kalimat dan nasehat beliau (para orang shalih), sebagai sebuah penyemangat dan motivasi dalam perbaikan akhlak dan diri. Sebagaimana yang dilakukan Abuya As-Sayyid Muhammad ibn Alawy Al-Maliky dalam kitab Al-Mukhtar ini. Dengan sebuah tujuan, mudah-mudahan kita bisa berlomba dalam kebaikan. Bersemangat dalam meniru suluk dan pribadi mereka yang suci. Menerapkan sebuah ungkapan ulama yang berbunyi,

“Tirulah (orang-orang shalih) jika kau tidak mampu persis seperti mereka. Karena sesungguhnya meniru suatu hal yang mulia merupakan sebuah kesuksesan”

Terdapat sebuah kisah perjalanan Abuya saat di Indonesia pada tahun 1983. Dimana saat itu Abina KH. M. Ihya’ Ulumiddin berkesempatan untuk selalu mendampingi perjalanan beliau. Abuya berkata, “Wahai Ihya’, kamu tahu sendiri bahwa aku dihormati bukan karena apa, melainkan karena ilmu yang aku miliki. Ada kalanya orang-orang menghormatiku dengan berbagai cara mereka sendiri. Entah dengan menawarkan istirahat di rumahnya, atau yang lainnya”. Alhasil, ada suatu masa dimana waktu beliau kosong saat itu. Tak seorangpun yang mengundang beliau ke rumahnya, karena memang jadwal perjalanan tersebut Abuya sendiri yang menentukan. Tanpa adanya perencanaan jadwal dari masyarakat.

Mengetahui hal tersebut, Abuya kemudian berkata, “Hari ini tak ada seorangpun yang mengundang kita untuk istirahat di rumahnya. Demi menghormati ilmuku, kamu carikan penginapan atau hotel termahal di daerah ini.” Alhasil, ditemukanlah sebuah hotel termahal di daerah tersebut, dan beliau memesan satu kamar termewah, VVIP. Terbayanglah dalam benak Abina saat itu, sebuah kamar mewah dengan ranjang yang empuk dan suasana yang nyaman. Namun, ada sebuah kejadian yang mengherankan beliau (Abina) sesaat setelah masuk ke dalam kamar tersebut. Abuya memanggil beliau dan berkata, “Wahai Ihya’, kamu turun ke bawah sekarang dan belilah 2 tikar.” Dengan keheranan, Abina melaksanakan titah tersebut tanpa banyak bertanya. Setelah 2 tikar didapat, Abuya kemudian berkata, “Malam ini, kita tidur di atas tikar ini. Biarlah orang-orang melihat kita masuk di kamar mewah, karena demi menghormati ilmuku. Namun hati kita tidak boleh tersilau dengan semua ini.” Abuya kemudian melanjutkan sebuah pesan pada Abina, “Wahai Ihya’, jika kau tidak lagi membedakan antara emas dan batu kerikil, maka kau adalah manusia (yang sempurna).”

Mengingat keadaan manusia yang selalu mengeluh akan segala pemberian Allah, entah merasa kurang akan nikmat yang diterima, atau bahkan tidak terima akan musibah yang sedikit menimpa. Karena itulah, merupakan hal yang sangat luar biasa, jika ada seorang manusia yang mampu membuktikan keimanannya terhadap segala pemberian Alloh dengan cara baik. Yaitu dengan Kalimat “Alhamdulillah”, saat menerima nikmat, dan “Alhamdulillah Ala kulli haal”, saat menerima musibah. Atau jika hal tersebut masih terasa sulit, setidaknya kalimat “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun” masih terucap dari hati dan lisan kita.

Dari sekian banyak madzhab suluk yang dilalui oleh para shalihin, terdapat beberapa madrasah para Imam shalih tersebut yang Abuya sampaikan sebagai tambahan pengetahuan dalam kitab ini.

  1. Madrasah Hasan Al-Bashry dan Ibrohim bin Adham, memfokuskan tarbiyah melalui rasa takut. Penjernihan hati dengan ilmu Fiqh dan Tauhid. Serta mengutamakan akhlak yang mulia dalam pelaksanaan ketaatan dan ibadah.
  2. Madrasah Robi’ah Al-Adawiyah dan Dzunnun Al-Mishry, memfokuskan pada kecintaan ilahi, bagaimana mencintai Alloh. Dan mengajak manusia untuk saling mencintai dan menyayangi pada manusia lainnya, bahkan pada setiap makhluk hidup yang ada. Dan mengubah keadaan yang terjadi di alam pada arah penjernihan dan persaudaraan.
  3. Madrasah Al-Harits Al-Mahasiby, memfokuskan pada muhasabatun-nafs (introspeksi diri) dan tazkiyatun-nafsi (penyucian hati). Berjalan pada hal yang detail dan lembut. Memunculkan pemahaman akan dunia melalui rahasia hati, adab, dan melalui ilham kepekaan dan perasaan.

Bersambung.