Sekali Lagi, Tentang Sekolah Berkualitas

Oleh  | Imam Mawardi

Profil sekolah berkualitas bukan warisan dinas pendidikan atau kemendikbud namun merupakan cerminan prilaku, budaya, bi’ah, pemikiran, visi dan misi semua pihak yang terlibat di sekolah. Penggabungan berbagai karakter inilah yang akan membentuk kualitas sekolah. Sebaiknya para pengkhidmah di sekolah tidak perlu mengukur kualitas sekolah dari sederetan pernyataan visi, dan misi sekolah yang dipamerkan di dinding sekolah, baliho dan atau brosur. Namun kualitas sekolah terpatri pada prilaku para warga sekolah yaitu kepala sekolah, para guru, para murid, para orangtua, dan masyarakat di lingkungan sekolah.

Melanjutkan pembahasan bagian satu terkait upaya menuju sekolah berkualitas, berikut merupakan langkah utama:

#Pertama, pekan pertama sekolah semua insan sekolah membentuk karakter sekolah, yaitu :
a. Kepala sekolah menegaskan kembali tanggung jawab, kerja sama dan pendampingan.
b. Para guru menaparkan program unggulan, visi dan misi perkelas, tanggung jawab, team work dan sinergi
c. Para murid diberi penguatan kepribadian, prilaku dan tanggung jawab.
d. Masing-masing insan sekolah menyampaikan perencanaan, target pencapaian, rencana proses, evaluasi dan out put.

#Kedua, dilibatkan insan sekolah dalam semua proses pembentukan karakter sekolah. Terutama kepala sekolah dan para guru melibatkan orang tua murid. Upaya ini untuk meneguhkan kesadaran dan kebersamaan.

#Ketiga, insan sekolah mewujudkan pemberdayaan jiwa leadership para murid sebagai seorang pemimpin di sekolah, di rumah dan di masyarakat.

#Keempat, wujudkan sekolah sebagai laboratorium kehidupan. Hindari mengelola sekolah sebagai tempat asing bagi kehidupan. Jika perlu diupayakan sekolah merupakan praktek hidup dan kerja bagi semua insan sekolah

#Kelima, ciptakan lingkungan sekolah menggairahkan, di antara yang dapat diupayakan adalah:
a. Kepala sekolah, guru dan insan sekolah lainnya menerima keadaan murid dengan tulis. Tidak ada diskriminasi pendidikan.
b. Sekolah tanpa peraturan dan tata tertib dari kepala sekolah atau guru. Namun memberi peluang para murid menciptakan kesepakatan sendiri untuk diri sendiri, untuk kelas dan sekolah.
c. Pembelajaran dengan pola guru sebaya, rekreatif, presentasi, kerja mandiri, learning by doing dan penyelesain proyek serta bermasyarakat

#Keenam, rekayasa kurikulum. Insan sekolah perlu merekayasa kurikulum sekolah agar pelaksanaan pengajaran mampu menyiapkan generasi lima bebas tahun ke depan. Bukan mewujudkan generasi usang.

Akhirnya kita akan bertanya kembali, siapakah yang harus bertanggung jawab mewujudkan sekolah berkualitas. Pertanyaan ini wajib diulang-ulang. Silakan para pengkhidmah sekolah selalu bertanya, ” siapakah yang harus bertanggung jawab mewujudkan sekolah berkualitas?”